JAKARTA – Pemerintah menjadwalkan pelaksanaan Uji Coba B50 pada moda transportasi kereta api mulai 1 Juli 2026 sebagai bagian dari program perluasan energi biodiesel.
Langkah ini diambil untuk memastikan keandalan teknis mesin lokomotif saat menggunakan campuran minyak sawit yang lebih tinggi.
Dadan Kusdiana menjelaskan bahwa persiapan teknis terus dimatangkan agar transisi menuju bahan bakar yang lebih ramah lingkungan berjalan tanpa kendala operasional.
"Kita akan mulai uji coba B50 di sektor transportasi, khususnya kereta api pada 1 Juli 2026," ujar Dadan Kusdiana, sebagaimana dilansir dari dunia-energi.com, Selasa (28/4/2026).
Penerapan kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi bahan bakar fosil serta menekan emisi karbon di sektor transportasi massal.
Direktur Jenderal EBTKE tersebut berpendapat bahwa pemilihan kereta api sebagai subjek pengujian sangat strategis mengingat beban kerja mesin yang berat dan konsisten.
"Uji coba ini penting untuk melihat dampak jangka panjang terhadap performa mesin dan sistem filtrasi bahan bakar sebelum diterapkan secara masal," kata Dadan Kusdiana, sebagaimana dilansir dari dunia-energi.com, Selasa (28/4/2026).
Selain aspek teknis, ketersediaan pasokan bahan baku dari industri kelapa sawit nasional juga menjadi faktor penentu keberhasilan program ini.
Koordinasi lintas kementerian dilakukan untuk memastikan bahwa infrastruktur pengisian bahan bakar di depo-depo kereta api sudah siap mendukung pengujian tersebut.
Jika hasil pengujian pada semester 2 tahun 2026 menunjukkan hasil positif, maka implementasi penuh pada sektor lain akan segera menyusul secara bertahap.
Pemerintah menargetkan penggunaan energi terbarukan dapat mencapai porsi yang signifikan dalam bauran energi nasional pada tahun-tahun mendatang.
Keberhasilan program ini akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pionir global dalam pemanfaatan biodiesel dengan campuran tinggi pada transportasi rel.