AS dan China Bersaing Ketat Kuasai Masa Depan Energi Global

Selasa, 28 April 2026 | 12:22:43 WIB
Ilustrasi industri energi

JAKARTA - Persaingan antara AS dan China semakin memanas dalam memperebutkan kendali atas masa depan energi global melalui inovasi teknologi dan manufaktur hijau.

Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini kini bergeser ke sektor pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa penguasaan rantai pasok material baterai menjadi kunci utama dalam memenangkan kompetisi di level internasional.

Terdapat upaya besar dari kedua negara untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini mendominasi pasar global.

"Ketergantungan dunia pada China untuk teknologi bersih merupakan tantangan strategis yang harus segera diatasi oleh negara-negara Barat," ujar pengamat energi dari lembaga internasional, sebagaimana dilansir dari news.detik.com, Selasa (28/4/2026).

Pemerintah Amerika Serikat mulai menerapkan berbagai kebijakan insentif untuk mendorong perusahaan domestik agar lebih kompetitif melawan dominasi produk asal Negeri Tirai Bambu.

Biden menilai bahwa investasi besar pada sektor infrastruktur hijau akan menciptakan jutaan lapangan kerja baru bagi masyarakat di negaranya.

"Kita tidak bisa membiarkan China mendominasi industri masa depan energi yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi kita sendiri," kata Joe Biden, seperti dilaporkan news.detik.com, Selasa (28/4/2026).

China saat ini masih memegang kendali atas sebagian besar pemrosesan mineral kritis yang sangat dibutuhkan untuk pembuatan mobil listrik.

Beijing berargumen bahwa dominasi yang mereka miliki saat ini merupakan hasil dari perencanaan jangka panjang selama puluhan tahun.

"Langkah proteksionisme yang diambil oleh pihak luar hanya akan menghambat transisi energi global yang saat ini sedang dibutuhkan oleh planet bumi," tulis juru bicara kementerian luar negeri China, dikutip dari news.detik.com, Selasa (28/4/2026).

Para ahli memprediksi bahwa persaingan ini akan terus berlanjut hingga beberapa dekade mendatang seiring dengan meningkatnya permintaan energi bersih.

Peralihan ke teknologi ramah lingkungan dipandang bukan sekadar isu iklim, melainkan sudah menjadi bagian dari pertaruhan geopolitik yang sangat krusial

Terkini