JAKARTA - Operasional smelter nikel RI terancam terganggu karena pasokan sulfur makin tipis akibat gangguan rantai pasok global yang dipicu oleh eskalasi perang dunia.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius bagi keberlanjutan industri hilirisasi mineral yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
"Kami melihat ancaman nyata di mana smelter nikel RI terancam kekurangan sulfur sebagai bahan penolong utama dalam proses hidrometalurgi," ujar Meidy Katrin Lengkey, sebagaimana dilangsir dari cnbcindonesia.com, Senin (27/4/2026).
Meidy berpendapat bahwa ketergantungan pada sumber impor tertentu membuat posisi industri pengolahan dalam negeri menjadi sangat rentan terhadap guncangan eksternal.
Kelangkaan pasokan ini berpotensi meningkatkan biaya produksi secara signifikan bagi perusahaan pengelola fasilitas pemurnian.
"Gangguan logistik di jalur perdagangan internasional membuat pasokan sulfur makin tipis dan harga di pasar spot melonjak tajam," tegas Meidy Katrin Lengkey, sebagaimana dilangsir dari cnbcindonesia.com, Senin (27/4/2026).
Upaya pencarian sumber alternatif di luar wilayah konflik terus dilakukan oleh para pelaku usaha guna mengamankan stok operasional.
Pemerintah diharapkan segera turun tangan untuk memfasilitasi kerja sama bilateral dengan negara produsen sulfur yang lebih stabil.
Tanpa langkah mitigasi yang cepat, target produksi nikel olahan untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik global bisa mengalami penundaan.
Ketegangan geopolitik ini memaksa industri domestik untuk memperkuat ketahanan bahan baku melalui diversifikasi mitra dagang secara lebih luas.