JAKARTA – Kondisi Harga Minyak Mentah kembali melonjak tajam dengan jenis Brent mencapai level US$ 109 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Pergerakan harga di pasar komoditas menunjukkan respons cepat terhadap dinamika keamanan di wilayah-wilayah strategis penghasil energi dunia.
Ketidakseimbangan antara permintaan yang terus meningkat dan ketersediaan stok di gudang-gudang penyimpanan utama memicu spekulasi harga yang cukup tinggi.
"Kenaikan harga minyak mentah yang menembus ambang batas 100 dolar per barel ini mencerminkan betapa rapuhnya rantai pasokan global saat ini," ujar analis pasar energi, sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Selasa (28/4/2026).
Jenis minyak mentah West Texas Intermediate juga terpantau mengikuti jejak penguatan dengan kenaikan persentase yang tidak jauh berbeda dari jenis Brent.
Sejumlah pakar ekonomi berpendapat bahwa tekanan harga ini akan memberikan dampak berantai pada biaya logistik dan transportasi di berbagai negara berkembang.
"Lonjakan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap sanksi baru serta gangguan fisik pada fasilitas produksi minyak di Timur Tengah," ujar pengamat tersebut, sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Selasa (28/4/2026).
Pemerintah di berbagai belahan dunia kini mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan minyak darurat untuk meredam gejolak harga yang terlalu liar.
Data menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur global yang mulai pulih turut berkontribusi pada penyerapan stok minyak mentah yang lebih cepat dari prediksi semula.
Kondisi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Amerika Utara sempat menghambat proses pengeboran dan distribusi minyak menuju pelabuhan ekspor utama.
Investor di pasar berjangka kini cenderung menahan posisi beli sambil memantau kebijakan terbaru dari organisasi negara-negara pengekspor minyak.
Langkah antisipasi di sektor fiskal menjadi sangat krusial bagi negara pengimpor energi guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil