JAKARTA – Kementerian ESDM genjot pembangunan PLTS 100 GW dengan memprioritaskan penyerapan panel surya buatan dalam negeri untuk memperkuat industri manufaktur nasional.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi para produsen komponen lokal yang selama ini bersaing dengan produk impor di pasar energi terbarukan.
"Langkah ESDM genjot pembangunan PLTS 100 GW ini harus dibarengi dengan keberpihakan pada industri dalam negeri agar manfaat ekonominya tetap berputar di tanah air," ujar Jisman P. Hutajulu, Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Jisman P. Hutajulu menegaskan bahwa ketersediaan lahan dan potensi sinar matahari yang konsisten di wilayah khatulistiwa menjadi modal utama dalam mengejar target masif tersebut.
Pemerintah tengah menyusun regulasi pendukung agar integrasi antara pembangkit skala besar dan kebutuhan sektor industri dapat berjalan selaras.
Pembangunan infrastruktur kelistrikan berbasis tenaga surya ini diharapkan mampu menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dalam jangka panjang bagi masyarakat luas.
Para investor kini mulai melirik proyek strategis ini seiring dengan kejelasan peta jalan transisi energi yang diusung oleh otoritas terkait.
Kapasitas 100 GW tersebut bukan sekadar angka, melainkan komitmen nyata untuk beralih dari ketergantungan pada energi fosil secara bertahap.
Selain fokus pada pembangunan fisik, peningkatan kualitas SDM di bidang teknologi surya juga menjadi bagian tak terpisahkan dari program besar ini.
Sinergi antara sektor publik dan swasta akan menjadi kunci utama dalam memastikan setiap megawatt yang terpasang memberikan dampak positif bagi lingkungan.