Percepat Transisi Energi Asia Melalui Investasi Hijau Inggris

Jumat, 24 April 2026 | 14:41:31 WIB
Ilustrasi Percepat Transisi Energi Asia

JAKARTA – Pemerintah Inggris resmi mengucurkan investasi hijau senilai Rp 25,6 triliun guna mendukung percepatan program transisi energi di berbagai negara kawasan Asia.

Komitmen besar dari tanah Britania ini menjadi angin segar bagi upaya global dalam menekan laju perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan. Alokasi dana tersebut dirancang untuk masuk ke berbagai sektor strategis yang mampu mengubah ketergantungan pada energi fosil menjadi sumber daya yang lebih ramah lingkungan.

"Ini adalah investasi terbesar Inggris di kawasan ini yang bertujuan untuk mendukung negara-negara Asia mencapai target net zero emission mereka," ujar Anne-Marie Trevelyan, sebagaimana dilansir dari investor.id, Jumat (24/4/2026).

Anne-Marie Trevelyan menjelaskan bahwa kolaborasi ini juga mencakup transfer teknologi dan pengetahuan teknis untuk memastikan proyek-proyek energi baru terbarukan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Fokus utama dari pembiayaan ini menyasar pada pembangunan infrastruktur energi matahari, angin, serta sistem penyimpanan energi yang efisien. Melalui kemitraan strategis ini, Inggris berharap dapat memperkuat ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

Trevelyan menekankan bahwa dukungan finansial ini bukan sekadar bantuan ekonomi, melainkan fondasi penting bagi masa depan ekonomi hijau yang lebih inklusif.

Negara-negara di Asia memiliki potensi alam yang sangat besar, namun sering kali terhambat oleh masalah pembiayaan dan akses teknologi mutakhir. Kehadiran dana segar ini diharapkan mampu menutup celah tersebut dan mempercepat realisasi proyek yang selama ini tertunda.

"Kami ingin memastikan bahwa transisi energi tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga menjadi kenyataan bagi ekonomi berkembang di Asia," kata Anne-Marie Trevelyan, dikutip dari investor.id.

Sebagian dari total dana 1,3 miliar poundsterling tersebut akan disalurkan melalui lembaga keuangan pembangunan internasional milik Inggris. Penyaluran modal ini juga diproyeksikan dapat menarik minat investor swasta lainnya untuk turut serta dalam mendanai inisiatif hijau di wilayah tersebut.

Langkah ini mempertegas posisi Inggris sebagai salah satu pemimpin dalam diplomasi iklim global pasca penyelenggaraan COP 26. Inisiatif serupa diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kesadaran global akan pentingnya keberlanjutan lingkungan hidup.

Terkini