JAKARTA – Ajang Mining Connect 2026 menjadi ruang krusial untuk mengulas tuntas berbagai strategi hilirisasi pertambangan guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Pertemuan lintas sektor ini berupaya memetakan jalan keluar atas hambatan teknis dan regulasi yang selama ini membayangi sektor mineral.
"Hilirisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan Indonesia mendapatkan manfaat ekonomi yang maksimal dari kekayaan mineralnya," ujar Arifin Tasrif, sebagaimana dilansir dari kompas.id, Jumat (24/4/2026).
Arifin Tasrif menegaskan bahwa integrasi antara industri hulu dan hilir harus dipercepat untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik dan energi bersih.
Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur pengolahan yang efisien di berbagai wilayah tambang.
Forum ini juga menyoroti pentingnya keterlibatan investor global dalam membawa teknologi pemurnian terbaru ke dalam negeri.
"Kami terus menyempurnakan kerangka regulasi agar strategi hilirisasi pertambangan ini memberikan kepastian hukum bagi para investor," tutur Arifin Tasrif, sebagaimana dilansir dari kompas.id, Jumat (24/4/2026).
Langkah pemerintah dalam melarang ekspor bijih mentah dinilai telah memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan pabrik pemurnian domestik.
Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri diharapkan mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal yang terampil di bidang teknologi mineral.
Inovasi berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing produk hasil olahan tambang Indonesia di pasar internasional.