JAKARTA – Lonjakan signifikan terjadi pada harga minyak dunia setelah jenis Brent berhasil menembus angka US$ 106 per barel akibat dinamika pasokan energi global terkini.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi energi di berbagai negara berkembang.
"Kenaikan harga ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan di tengah konflik yang masih berlangsung," ujar Analis Energi, John Doe, sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Jumat (24/4/2026).
John Doe menjelaskan bahwa keterbatasan produksi dari negara-negara eksportir utama menjadi faktor dominan yang menekan harga ke level tertinggi tahun ini.
Situasi pasar saat ini sangat volatil sehingga sulit diprediksi kapan titik jenuh akan tercapai.
Permintaan yang terus meningkat seiring pulihnya aktivitas industri global menambah beban pada cadangan minyak mentah yang ada.
"Kita melihat adanya potensi reli lanjutan jika tidak ada intervensi kebijakan dari negara-negara produsen besar dalam waktu dekat," tutur John Doe, sebagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Jumat (24/4/2026).
Beberapa maskapai penerbangan dan industri manufaktur mulai merasakan dampak langsung dari kenaikan biaya operasional akibat harga bahan bakar yang mahal.
Pemerintah di berbagai belahan dunia kini sedang mempertimbangkan langkah taktis untuk meredam dampak lonjakan harga tersebut pada daya beli masyarakat.
Harga energi diperkirakan tetap berada pada tren naik selama ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan belum teratasi secara menyeluruh.