JAKARTA – Lonjakan harga minyak dan penguatan dolar AS memberikan tekanan besar bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat ini.
Kondisi pasar global yang tidak menentu membuat otoritas moneter harus bekerja ekstra keras menjaga stabilitas nilai tukar.
"Kombinasi kenaikan harga minyak mentah dan penguatan indeks dolar AS secara bersamaan menciptakan risiko inflasi impor yang cukup nyata bagi ekonomi kita," ujar Josua Pardede, sebagaimana dilansir dari investing.com, Jumat (24/4/2026).
Josua Pardede menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan akibat tekanan eksternal ini bisa berdampak pada defisit transaksi berjalan.
Situasi tersebut menuntut langkah antisipatif agar arus modal keluar tidak semakin deras meninggalkan pasar keuangan domestik.
Sektor manufaktur diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak jika biaya energi dan bahan baku impor terus merangkak naik.
"Bank Indonesia kemungkinan besar harus menaikkan suku bunga acuannya jika rupiah menembus level psikologis baru demi menyeimbangkan pasar," tutur Josua Pardede, sebagaimana dilansir dari investing.com, Jumat (24/4/2026).
Penyesuaian ini dipandang perlu meskipun berisiko memperlambat laju penyaluran kredit perbankan ke sektor riil.
Para pelaku usaha kini sedang mencermati setiap sinyal dari rapat dewan gubernur untuk menyesuaikan rencana ekspansi bisnis mereka.
Intervensi di pasar valas tetap dilakukan namun kenaikan suku bunga dianggap sebagai instrumen yang lebih kuat untuk jangka panjang.