JAKARTA – Lonjakan harga BBM industri naik yang dibarengi pelemahan rupiah memicu desakan agar pemerintah segera memberikan insentif khusus bagi sektor-sektor yang rentan.
Kondisi ekonomi saat ini memaksa pelaku usaha untuk menanggung beban operasional yang jauh lebih berat dari periode sebelumnya.
"Pemerintah perlu memberikan insentif bagi sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan biaya input seperti logistik dan manufaktur, agar tekanan harga tidak langsung dibebankan ke konsumen," ujar Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, sebagaimana dilansir dari kontan.co.id, Jumat (24/4/2026).
Yusuf Rendy Manilet berpendapat bahwa intervensi fiskal menjadi instrumen krusial untuk mencegah terjadinya perlambatan roda ekonomi di tingkat menengah.
Kenaikan biaya energi yang bersinggungan dengan kurs dolar AS dapat memicu efek domino pada harga barang jadi di pasar domestik.
Sektor logistik menjadi garda terdepan yang paling cepat merasakan dampak dari perubahan harga bahan bakar komersial tersebut.
"Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa ada bantalan kebijakan, maka target pertumbuhan ekonomi nasional bisa terancam melambat di kuartal mendatang," tutur Yusuf Rendy Manilet, sebagaimana dilansir dari kontan.co.id, Jumat (24/4/2026).
Pemerintah diharapkan segera melakukan evaluasi terhadap skema perpajakan atau subsidi silang bagi industri yang padat karya.
Langkah ini penting untuk memastikan penyerapan tenaga kerja tetap stabil di tengah ketidakpastian kondisi moneter global.
Efisiensi internal perusahaan saja tidak akan cukup kuat untuk menahan hantaman kenaikan harga energi secara berkelanjutan.