Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini Kamis 5 Maret 2026

Kamis, 05 Maret 2026 | 10:55:29 WIB
Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini Kamis 5 Maret 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pasar pada Kamis pagi. 

Di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi faktor geopolitik dan sentimen ekonomi internasional, mata uang Garuda tercatat memulai perdagangan dengan penguatan tipis. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal masih terasa, rupiah tetap mampu menjaga stabilitasnya pada awal sesi perdagangan.

Data pasar menunjukkan bahwa rupiah bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, dolar AS juga menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang global, menandakan adanya tarik-menarik sentimen antara faktor domestik dan global yang memengaruhi pasar valuta asing.

Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dunia serta sejumlah sentimen ekonomi yang turut memengaruhi arah pasar keuangan. Para pelaku pasar pun terus memantau berbagai perkembangan tersebut untuk menentukan strategi investasi mereka dalam jangka pendek.

Rupiah Dibuka Menguat Tipis di Awal Perdagangan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis ke posisi 16.885 pada hari ini, Rabu, 5 Maret 2026. Pada saat bersamaan, greenback terpantau bergerak di zona hijau.

Mengutip Bloomberg hingga pukul 09.05, rupiah dibuka menghijau sebesar 7 basis point atau 0,04% menuju level Rp16.916 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,05% ke posisi 98,82.

Pergerakan ini mencerminkan kondisi pasar yang masih berhati-hati terhadap berbagai faktor eksternal yang memengaruhi stabilitas mata uang global. Meskipun rupiah sempat menunjukkan penguatan pada awal perdagangan, dinamika pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global serta sentimen geopolitik yang terus berkembang.

Mayoritas Mata Uang Asia Turut Menguat

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia lainnya ikut mengalami penguatan. Yen Jepang terhadap dolar AS terapresiasi sebesar 0,18%, dolar Singapura terpantau turut menguat sebesar 0,01%.

Won Korea terhadap dolar AS juga terpantau menguat tipis sebesar 0,03 %. Mata uang Peso Filipina terapresiasi sebesar 0,25%.

Yuan China dan ringgit Malaysia ikut menguat sebesar 0,14 %. Tak hanya itu, baht Thailand ikut menguat 0,05%.

Sebaliknya pelemahan terjadi terhadap dolar Hong Kong dan rupee India masing-masing sebesar 0,01% dan 0,73%.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia ini menggambarkan adanya sentimen positif yang cukup merata pada perdagangan hari ini. Namun demikian, pergerakan tersebut masih berada dalam rentang terbatas karena pelaku pasar tetap mempertimbangkan berbagai risiko global yang masih membayangi perekonomian dunia.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada Kamis (5/3/2026), rupiah masih bergerak fluktuatif dan cenderung melemah terbatas dalam rentang Rp16.890 – Rp16.940 per dolar AS.

Menurutnya, sejumlah faktor eksternal masih berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah sepanjang hari. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran di pasar global.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ketidakpastian global sering kali mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Ketegangan Global dan Sentimen Domestik Tekan Rupiah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.

Situasi memburuk karena serangan lanjutan masih terjadi, sementara Iran merespons dengan meningkatkan kekuatan militer di kawasan Teluk serta mengancam jalur pelayaran global.

Menurutnya kenaikan harga minyak akibat risiko geopolitik tersebut berpotensi mendorong inflasi global.

Bagi Indonesia, kondisi ini dapat memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah karena meningkatnya kebutuhan impor energi serta sentimen pasar yang cenderung menghindari aset berisiko (risk-off).

Meski Presiden AS menyatakan akan menjamin keamanan jalur pelayaran, premi risiko geopolitik masih cukup tinggi dan membuat pasar tetap waspada dalam jangka pendek.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang setelah Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level BBB.

Perubahan outlook tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor asing dan meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah.

Kombinasi faktor global dan domestik ini membuat pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif dalam jangka pendek. Pelaku pasar pun terus memantau perkembangan geopolitik, kebijakan ekonomi global, serta kondisi fundamental domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan mata uang Indonesia ke depan.

Terkini