MIND ID Rehabilitasi 8.000 Hektare Lahan Bekas Tambang Jadi Habitat

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 25 Juni 2026
MIND ID Rehabilitasi 8.000 Hektare Lahan Bekas Tambang Jadi Habitat
MIND ID berhasil merehabilitasi lebih dari 8.000 hektare lahan bekas tambang hingga tahun 2025. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Holding tambang pelat merah MIND ID terus membuktikan bahwa operasional pertambangan tidak selamanya berkaitan dengan degradasi lingkungan. 

Di tengah eskalasi kebutuhan global akan mineral strategis, Grup MIND ID justru mengoptimalkan langkah restorasi ekosistem melalui reklamasi lahan pascatambang serta rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS). 

Hingga tahun 2025, Grup MIND ID sudah menyelesaikan reklamasi lebih dari 8.000 hektare lahan bekas tambang dan memulihkan lebih dari 37.700 hektare DAS di berbagai area operasi. Pencapaian ini menjadi salah satu tolak ukur krusial dalam implementasi pertambangan berkelanjutan di Indonesia.

Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, menekankan bahwa kenaikan permintaan mineral dunia wajib diimbangi dengan tata kelola lingkungan yang lebih ketat serta terukur. 

Menurutnya, kesuksesan operasional saat ini tidak sekadar dinilai dari jumlah produksi mineral, tetapi juga kapasitas perusahaan dalam memulihkan alam dan merawat keanekaragaman hayati.

“Realisasi reklamasi dan perlindungan biodiversitas menjadi fokus utama dalam Sustainability Pathway Grup MIND ID. Setiap entitas didorong memiliki protokol pengelolaan biodiversitas yang memadai, terutama di wilayah dengan nilai konservasi tinggi,” ujarnya.

Efek positif dari inisiatif ini sudah tampak jelas. PT Aneka Tambang Tbk lewat Unit Bisnis Pertambangan Nikel Maluku Utara melaporkan kenaikan indeks biodiversitas dari 1,757 ke 1,963 yang menunjukkan ekosistem di area tambang mulai membaik dan kian stabil. 

Di sisi lain, PT Freeport Indonesia memperluas area konservasi mangrove hingga lebih dari 2.200 hektare secara kumulatif sebagai langkah strategis dalam menjaga ekosistem pesisir.

Menggunakan pendekatan berbeda, PT Indonesia Asahan Aluminium memprioritaskan rehabilitasi area tangkapan air Danau Toba dengan memulihkan lebih dari 4.000 hektare lahan hingga 2025 guna memperkuat fungsi hidrologis wilayah tersebut. 

Pada sektor timah, PT Timah Tbk mencatat peningkatan indeks biodiversitas dari 2,88 pada 2022 menjadi 3,26 di tahun 2025 melalui integrasi reklamasi darat dan laut. Sedangkan di sektor nikel, PT Vale Indonesia Tbk telah merealisasikan reklamasi seluas 156,67 hektare di Blok Sorowako dan 1,42 hektare di Indonesia Growth Project Morowali sepanjang 2025, disertai rehabilitasi DAS yang mencapai 17.877 hektare.

Binahidra menegaskan bahwa keberlanjutan sekarang bukan hanya pemenuhan kewajiban administratif, melainkan menjadi “paspor” vital dalam mempertahankan akses terhadap pendanaan global serta pasar internasional.

“Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang,” tegasnya.

Pesan senada turut disampaikan Mohammad Jumhur Hidayat yang dalam ajang Indonesia International Environmental Technology and Innovation Expo & Conference 2026 mengingatkan bahwa pengembangan ekonomi wajib selaras dengan upaya konservasi alam.

“Pembangunan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan alam tetap lestari untuk generasi mendatang,” kata Jumhur.

Strategi yang ditempuh Grup MIND ID ini menunjukkan bahwa masa depan industri tambang bukan lagi sekadar kegiatan mengekstraksi bumi, melainkan upaya mengembalikan kehidupan pada lahan yang telah diolah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua