Strategi Pertamina Akselerasi Transisi dan Bisnis Rendah Karbon

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 05 Juni 2026
Strategi Pertamina Akselerasi Transisi dan Bisnis Rendah Karbon
Pertamina mempercepat transisi energi melalui strategi pertumbuhan ganda di Bali. (Sumber Foto: NET)

BALI - Pertamina terus meningkatkan upaya mendukung ketahanan serta transisi energi melalui strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy). 

Pertama, Pertamina memaksimalkan bisnis warisan (maximizing legacy business) dengan mengoptimalkan potensi nilai di sektor hulu, membangun fleksibilitas kilang, transformasi bisnis retail bahan bakar, serta perluasan infrastruktur dan layanan. Kedua, membangun bisnis rendah karbon (building low carbon business).

Hal itu disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, saat diskusi panel bertajuk 'Decarbonization : Global Technology Trends and Best Practices', Rabu (3/6). 

Sesi ini adalah rangkaian kegiatan 'World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific', forum regional transisi energi berkelanjutan yang diinisiasi World Bank Group. 

Dalam pemaparannya mengenai 'Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business', Agung menjelaskan cara transisi energi dijalankan guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Agung menuturkan, Pertamina memiliki visi menjaga keamanan energi nasional serta mendorong transisi energi lewat program dekarbonisasi terintegrasi dan pengembangan bisnis rendah karbon, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. 

Menurut Agung, transisi energi di Indonesia harus menyeimbangkan tantangan trilema energi, yakni keamanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung.

Inisiatif dekarbonisasi Pertamina menjadi pembelajaran bagi peserta dari berbagai negara. “Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. 

Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage),” urai Agung.

Pada aspek dekarbonisasi, dilakukan penggantian peralatan berbahan bakar fosil menjadi bertenaga listrik, yang menghasilkan efisiensi energi 1,52 MMtCO2e, atau menyumbang 66,86 persen dari total pengurangan emisi Pertamina. 

Sementara itu, untuk bisnis rendah karbon, dilakukan inovasi biofuel dengan potensi penjualan 60 juta kiloliter pada 2029 melalui proyek utama Bio Refinery Cilacap.

Pertamina juga memaksimalkan potensi listrik panas bumi berkapasitas 1,4 GW melalui proyek di Hululais dan Lahendong. 

Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas diharapkan mempercepat pengembangan panas bumi dan memperkuat bauran energi bersih nasional. 

Selain itu, Pertamina berkomitmen mengurangi emisi metana (CH4) 40 persen dari basis 2021 melalui program zero flaring dan Leak Detection & Repair Campaign (LDAR). 

Upaya ini terbukti menurunkan emisi metana di lapangan PEP Donggi Matindok sebesar 68,4 persen, JOB Pertamina-Medco E&P Tomori 30 persen, dan PT Badak NGL 38,7 persen pada 2025.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua