Pemanfaatan EBT dan Sampah Jadi Listrik Jadi Kunci Daya Tahan Energi

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 04 Juni 2026
Pemanfaatan EBT dan Sampah Jadi Listrik Jadi Kunci Daya Tahan Energi
Pengembangan energi terbarukan dan pemanfaatan sampah sebagai listrik menjadi fokus penguatan ketahanan energi Jawa Tengah. (Sumber Foto: NET)

JAWA TENGAH - Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta pemanfaatan sampah menjadi energi listrik dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus merespons tantangan lingkungan yang kian rumit. 

Dukungan terhadap akselerasi program tersebut disampaikan oleh Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Tengah dan DIY, Ir. Soewondo Koesoemo.

Soewondo menekankan bahwa pengembangan EBT perlu terus dipacu guna menekan ketergantungan pada energi fosil sekaligus mendukung target pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission (NZE). 

Menurutnya, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan berbasis energi terbarukan bukan sekadar kebutuhan masa depan, melainkan fondasi krusial bagi keberlanjutan sektor energi nasional.

“MKI secara konsisten mendorong percepatan pembangunan berbagai proyek energi bersih, baik di Jawa Tengah maupun wilayah lainnya di Indonesia,” ujar Soewondo.

Ia memaparkan bahwa Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, biomassa, hingga pemanfaatan sampah sebagai sumber listrik. 

Transformasi sektor energi, imbuhnya, tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan listrik yang terus melonjak, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan. 

Oleh karena itu, Soewondo mendorong terciptanya sinergi yang solid antara pemerintah, PLN, investor, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk mempercepat realisasi proyek-proyek EBT di daerah.

Selain itu, Soewondo juga menyoroti urgensi penerapan teknologi Waste-to-Energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai solusi atas kian meningkatnya persoalan sampah di berbagai daerah. 

Menurutnya, sampah yang selama ini membebani lingkungan dapat diolah menjadi sumber energi bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.

Melalui teknologi tersebut, volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat dikurangi secara signifikan sekaligus menghasilkan listrik yang bermanfaat bagi masyarakat. 

MKI menilai, dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah terkait pengolahan sampah menjadi energi membuka peluang luas bagi pemerintah daerah dan investor untuk mengembangkan PLTSa secara lebih masif.

Jawa Tengah disebut memiliki prospek sangat menjanjikan mengingat tingginya volume timbulan sampah di berbagai kabupaten dan kota. 

Karena itu, MKI mendesak pemerintah daerah segera melakukan pemetaan potensi, menyiapkan lahan, serta menyusun regulasi pendukung guna mempercepat realisasi proyek pengolahan sampah menjadi listrik.

Soewondo berharap akselerasi pengembangan EBT dan implementasi teknologi pengolahan sampah memberikan manfaat ganda bagi Indonesia, yakni meningkatkan ketersediaan pasokan listrik nasional sekaligus membantu mengatasi persoalan lingkungan. 

Ia menyebut pengembangan energi baru terbarukan dan pemanfaatan sampah menjadi energi listrik merupakan langkah nyata menuju masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.

"Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, saya optimistis target transisi energi nasional dapat tercapai,” tegas Soewondo.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua