Perdagangan Karbon PTPN IV PalmCo: Indikator Partisipasi Publik Naik

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 04 Juni 2026
Perdagangan Karbon PTPN IV PalmCo: Indikator Partisipasi Publik Naik
Masyarakat tingkatkan partisipasi dalam perdagangan karbon melalui PTPN IV PalmCo sepanjang 2025. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA – Keterlibatan masyarakat dalam bursa karbon memperlihatkan tren peningkatan sepanjang 2025. Melalui platform PTPN Carbon Hub serta IDX Carbon, publik tercatat menyerap 5.202 ton setara karbon dioksida ($tonCO_2e$) dari inisiatif energi terbarukan PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara.

Catatan perusahaan mengungkap total serapan tersebut berasal dari 335 transaksi yang dilakukan entitas bisnis maupun individu sejak perdana dicatatkan di Bursa Karbon Indonesia pada 20 Mei 2025. Transaksi pembelian riil perdana terjadi pada 29 Juli 2025, sementara akumulasi pencatatan berakhir pada 31 Desember 2025.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menuturkan tren tersebut merepresentasikan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi langsung dalam aksi pengurangan emisi.

“Dulu isu perdagangan karbon identik dengan korporasi besar. Sekarang masyarakat juga mulai mengambil peran dalam menyeimbangkan jejak karbon dari aktivitas sehari-hari,” ungkap Jatmiko dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, seluruh unit karbon yang diperdagangkan lewat platform tersebut bersumber dari proyek terverifikasi dengan operasional nyata di lapangan. 

Dua proyek utama sebagai sumber kredit karbon yaitu pemanfaatan palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit pada fasilitas Biogas Co-Firing di Pabrik Kelapa Sawit Lubuk Dalam, Riau, serta Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Proyek tersebut mengolah gas metana dari limbah cair sawit menjadi energi baru terbarukan. Selain mereduksi emisi gas rumah kaca, skema ini memperkuat praktik ekonomi sirkular di industri perkebunan sawit.

Data perusahaan menyebutkan, dari 5.202 $tonCO_2e$ yang diserap publik, sebanyak 2.111 $tonCO_2e$ telah di-offset secara resmi melalui Sistem Registri Nasional (SRN). Proses offset dilakukan bertahap dengan fasilitasi PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) serta dukungan Pertamina New & Renewable Energy.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan proyek biogas PTPN IV PalmCo sebagai salah satu aksi mitigasi yang mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia di Bursa Karbon. 

Jatmiko menilai capaian ini indikator bahwa mekanisme perdagangan karbon mulai diterima masyarakat karena dinilai aksesibel dan transparan.

“Setiap unit karbon yang dibeli memiliki underlying project yang jelas. Masyarakat bisa mengetahui langsung sumber pengurangan emisinya sehingga kepercayaan terhadap mekanisme ini ikut tumbuh,” katanya.

Secara teknis, serapan emisi 5.202 $tonCO_2e$ setara dengan penanaman serta pemeliharaan sekitar 86.000 bibit pohon dalam kurun 10 tahun. Nilai tersebut juga ekuivalen dengan pengurangan emisi dari 1.130 mobil penumpang selama satu tahun.

Para partisipan mengakui mulai memandang offset karbon sebagai tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. M Ansori Nasution, salah satu pembeli kredit karbon ritel, menyatakan kemudahan akses terhadap proyek energi terbarukan membuat publik lebih yakin pada dampak nyata yang dihasilkan.

“Sebagai individu, ada kesadaran untuk ikut menyeimbangkan jejak karbon. Yang penting, proyeknya jelas dan memang menghasilkan pengurangan emisi,” sebut Ansori.

Pendapat serupa disampaikan Devanda Faiqh Albyn. Menurutnya, generasi muda memandang partisipasi dalam perdagangan karbon sebagai investasi lingkungan jangka panjang.

“Isu perubahan iklim sekarang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika ada instrumen yang memungkinkan publik ikut mendukung proyek energi bersih secara langsung, tentu itu menjadi hal positif,” katanya.

Pemerintah menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2050. Keterlibatan sektor energi terbarukan dan perkebunan diproyeksikan menjadi penopang penting transisi ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua