China Alami Lonjakan Emisi Akibat Pemborosan Listrik Energi Bersih

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 04 Juni 2026
China Alami Lonjakan Emisi Akibat Pemborosan Listrik Energi Bersih
Ilustrasi emisi karbon. (Sumber Foto: NET)

BEIJING – Emisi karbon dioksida di China mengalami kenaikan pada tiga bulan pertama tahun ini. Kondisi tersebut terjadi akibat tingginya volume listrik yang dihasilkan oleh sumber energi terbarukan namun tidak terpakai, sebagaimana diungkapkan dalam laporan terbaru.

Emisi karbon selama periode Januari hingga Maret naik 2% dibandingkan dengan kurun waktu yang sama tahun lalu. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan polusi pada sektor kelistrikan yang diperparah dengan pembatasan pembangkit listrik tenaga surya dan angin.

Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih memaparkan temuan tersebut dalam laporan yang dirilis Kamis (4/6/2026) oleh Carbon Brief. 

Tingkat pemanfaatan tenaga surya dan angin tercatat menurun pada kuartal pertama jika dibandingkan dengan 2025, yang telah dikonfirmasi oleh Pusat Pemantauan dan Peringatan Dini Konsumsi Energi Baru Nasional bulan lalu.

Permasalahan ini kerap dikaitkan dengan adanya kemacetan jaringan dan kelebihan pasokan. Sementara itu, pembangkit listrik tenaga termal terpantau mengalami pertumbuhan selama empat bulan berturut-turut hingga April.

Analis utama CREA, Lauri Myllyvirta, mengatakan bahwa peningkatan pembatasan energi bersih sebagian besar merupakan hasil dari pengelolaan jaringan listrik serta pembangkit tenaga batu bara yang kurang fleksibel, bukan disebabkan oleh kekurangan infrastruktur distribusi dan transmisi. 

Pembatasan ini turut memicu inflasi serta mengikis keamanan energi, sebab membuat China lebih bergantung pada impor gas—sebuah masalah yang dapat memburuk jika musim panas yang ekstrem membatasi produksi pada pembangkit listrik tenaga air.

“Ketidakmampuan memanfaatkan sepenuhnya pembangkit listrik tenaga angin dan surya baru membuat China lebih rentan terhadap penutupan Selat Hormuz, dengan meningkatkan kebutuhan akan bahan bakar lain,” kata Myllyvirta.

Emisi karbon China dari sektor industri dan bahan bakar fosil telah stagnan atau menurun selama kurang lebih dua tahun seiring upaya negara tersebut dalam membersihkan sistem pembangkit listriknya, menurut data CREA. 

Walaupun sempat terjadi kenaikan pada kuartal pertama, volume emisi tetap berada di bawah level puncak pada Maret 2024.

Di sisi lain, analis lain melihat jejak iklim China masih menunjukkan tren pengurangan yang berkelanjutan. Climate Trace mengestimasikan total emisi gas rumah kaca China, di luar sektor kehutanan dan perubahan penggunaan lahan, mencapai 4,4 miliar ton setara karbon dioksida pada tiga bulan pertama 2026, turun dari 4,5 miliar ton pada periode yang sama 2025.

Menurut CREA, pembatasan energi bersih disebabkan oleh manajemen jaringan yang tidak fleksibel, yang terlalu memprioritaskan kontrak jangka panjang serta gagal menciptakan insentif memadai guna menyesuaikan produksi listrik batu bara untuk memberi ruang bagi energi angin dan surya. 

Sejatinya, peningkatan perdagangan listrik antarwilayah di China dapat membantu menekan pemborosan tersebut.

“Sisi lain dari peningkatan pembatasan saat ini bahwa ketika kapasitas terpasang tenaga angin, surya, dan penyimpanan energi dimanfaatkan sepenuhnya, pasokan energi bersih akan meningkat secara substansial,” kata Myllyvirta.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua