Sektor Energi Lesu, Analis Sarankan Investor Pilih Saham Selektif

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 03 Juni 2026
Sektor Energi Lesu, Analis Sarankan Investor Pilih Saham Selektif
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). (Sumber Foto: hijau.bisnis.com)

JAKARTA - Kinerja indeks sektoral saham energi (IDX Energy) terlihat cukup lesu akhir-akhir ini karena tertekan oleh kombinasi berbagai faktor internal dan eksternal. Kendati demikian, masih ada beberapa saham dari sektor energi yang patut diperhatikan oleh investor.

Berdasarkan data di Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Energy telah terkoreksi tajam 33,56% year to date (ytd) ke level 2.958,885 hingga Selasa (2/6). Dengan demikian, IDX Energy menjadi indeks sektoral dengan kinerja terburuk hingga saat ini.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyebut bahwa pelemahan indeks saham energi dipengaruhi oleh kondisi harga batubara termal yang mengalami koreksi dalam dibandingkan level tertingginya pada 2024–2025 seiring perlambatan permintaan dari China, peningkatan produksi energi terbarukan, serta pasokan yang relatif memadai. 

Meskipun indeks sempat tersulut lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan tersebut tidak berlangsung berkelanjutan karena pasar lebih fokus pada risiko perlambatan ekonomi global dan potensi peningkatan pasokan dari negara produsen. 

Dari faktor domestik, investor mulai mengantisipasi normalisasi laba emiten energi setelah periode supercycle komoditas selama beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu rotasi dana ke sektor lain yang lebih prospektif terhadap penurunan suku bunga dan pemulihan ekonomi domestik, seperti perbankan, teknologi, dan konsumsi.

"Beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor energi, terutama emiten batubara yang sebelumnya menjadi motor kenaikan indeks, mengalami tekanan karena ekspektasi penurunan laba dan dividen dibandingkan periode puncaknya," ungkap dia, Selasa (2/6/2026).

Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa saham-saham konglomerasi energi dengan bobot besar terkoreksi bukan karena faktor fundamental, melainkan akibat eksklusi indeks MSCI dan isu konsentrasi kepemilikan saham (high shareholder concentration atau HSC). 

Selain itu, pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara, kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), serta komitmen Indonesia untuk impor energi memberikan efek dua mata pisau.

"Terjadi rotasi dari saham-saham energi, tapi lebih dipicu oleh risiko regulasi dan aliran modal, bukan pelemahan fundamental," imbuh dia, Selasa (2/6/2026).

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan tren pelemahan IDX Energy didominasi oleh faktor normalisasi harga komoditas berbasis energi pasca-meredanya isu geopolitik Timur Tengah. 

Indeks ini juga terpapar sentimen pemangkasan kuota produksi batubara nasional 2026, aksi profit taking pada saham konglomerasi besar, serta rotasi dana keluar dari sektor tersebut selama Mei 2026.

Ke depan, indeks sektor energi berpeluang rebound selektif setelah adanya kepastian regulasi kuota dan stabilisasi harga komoditas dengan katalis utama dari permintaan batubara termal di Asia dan disrupsi pasokan energi global. 

"Penopang paling realistis indeks ini adalah saham batubara berbiaya rendah dan terdiversifikasi seperti ADRO dan ADMR, plus PTBA yang menarik dari sisi dividend yield serta sama-sama menawarkan valuasi murah pasca-koreksi," ungkap dia, Selasa (2/6).

Wafi memandang prospek jangka menengah IDX Energy cukup menarik setelah tekanan rebalancing MSCI dan FTSE berakhir. Saham-saham seperti AADI dan PTBA berpotensi menjadi penopang utama karena RKAB telah disetujui, memiliki dividend payout ratio (DPR) tinggi, serta valuasi price to earning ratio (PER) yang murah. 

Selain itu, MEDC dinilai menjanjikan berkat diversifikasi bisnis migas dan energi terbarukan, sementara ABMM serta BSSR atraktif dari sisi price to book value (PBV) yang rendah. Menurut Arinda, investor disarankan untuk mencermati saham PTBA, ITMG, MEDC, dan AADI dengan target harga yang kompetitif.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua