Insentif Baterai NMC Vital untuk Ekosistem Kendaraan Listrik
CIKARANG - Industri baterai kendaraan listrik berbasis nickel manganese cobalt (NMC) memerlukan dukungan insentif yang lebih terarah agar program hilirisasi mineral serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dapat berjalan selaras.
Berdasarkan data Indonesia Battery Corporation (IBC), dari sekitar 103.000 unit mobil listrik yang terjual sepanjang 2025, hanya sekitar 4 persen yang menggunakan baterai NMC berbahan baku nikel. Sisanya masih menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) berbahan baku besi dan fosfat.
Pengamat Energi sekaligus Project Coordinator ENTREV, Eko Adji Buwono, menyatakan bahwa insentif baterai NMC menjadi faktor vital dalam memperkuat ekosistem kendaraan listrik berbasis sumber daya alam domestik.
Ia menyebut dukungan fiskal tidak cukup hanya diberikan kepada konsumen kendaraan listrik, melainkan perlu menyasar seluruh rantai industri baterai berbasis nikel dari hulu hingga hilir, mulai dari smelter, prekursor, katoda, hingga manufaktur sel baterai.
“Insentif jangka panjang masih sangat penting dan masih diperlukan supaya ada kepercayaan industri pengguna baterai kendaraan listrik terhadap kepastian rantai pasok dan harga yang kompetitif,” ujar Eko dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan insentif minimal dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun agar pelaku industri memiliki kepastian untuk berinvestasi dan membangun rantai pasok baterai NMC di dalam negeri.
Eko menilai momentum pertumbuhan kendaraan listrik berbasis NMC juga mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan meningkat menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.
Meski masih didominasi kendaraan berbasis LFP, pangsa kendaraan listrik berbasis NMC mulai meningkat. Pada 2024, penjualan EV berbasis NMC tercatat sekitar 9.390 unit atau 16,7 persen dari total pasar. Angka tersebut naik menjadi 26.069 unit atau sekitar 22,8 persen pada 2025.
Secara pertumbuhan, penjualan EV berbasis NMC melonjak 177,6 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kendaraan berbasis LFP yang sebesar 88,7 persen.
Eko menyatakan momentum tersebut harus dijaga melalui kebijakan fiskal komprehensif, termasuk pemberian stimulus seperti PPnBM ditanggung pemerintah (DTP), pembebasan bea masuk, PPN DTP, tax allowance, hingga royalty allowance bagi industri prekursor berbasis mineral logam domestik.
Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu mempercepat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) baterai NMC di wilayah Indonesia timur agar pengembangan industri hilir baterai nasional lebih terintegrasi.
“Pembangunan KEK baterai NMC perlu diteruskan sampai jadi produk hilir yang terintegrasi, termasuk membangun infrastruktur fasilitas impor-ekspor maupun distribusi produksi,” ujar Eko.
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, mengatakan pemerintah perlu membantu menciptakan pasar bagi baterai berbasis NMC di tengah dominasi baterai LFP di pasar kendaraan listrik domestik.
Menurutnya, kebutuhan insentif semakin mendesak menjelang beroperasinya pabrik baterai Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, pada Juli 2026.
“Hilirisasi nikel adalah mandat dari pemerintah. Makanya seyogyanya pemerintah juga membantu menciptakan market,” ujar Aditya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Aditya menilai insentif sebaiknya tidak hanya diberikan kepada kendaraan listrik, tetapi juga langsung menyasar baterai agar dampaknya lebih terasa terhadap program hilirisasi nasional. Menurutnya, skema insentif dapat dihitung berdasarkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) komponen baterai kendaraan listrik.
“Menurut saya, kebijakan itu mungkin tidak harus buat mobilnya, tapi bisa juga baterainya. Dan tidak harus baterai gelondongannya yang dihitung, tapi dari komponen di dalamnya,” katanya.