Selasa, 17 Maret 2026

Pengembangan Kopdes Merah Putih: Fokus pada Potensi Lokal untuk Sukses

Pengembangan Kopdes Merah Putih: Fokus pada Potensi Lokal untuk Sukses
Pengembangan Kopdes Merah Putih: Fokus pada Potensi Lokal untuk Sukses

JAKARTA - Rencana pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/kel) Merah Putih di Indonesia harus didorong oleh pemahaman yang mendalam mengenai pengalaman koperasi di masa lalu. 

Hal ini penting untuk menghindari kesalahan yang sama agar koperasi yang baru ini dapat berkembang secara berkelanjutan. Menurut peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, kegagalan Koperasi Unit Desa (KUD) yang pernah ada di masa lalu memberikan pelajaran berharga dalam merancang koperasi masa depan yang lebih efektif.

Kegagalan KUD di Masa Lalu Sebagai Pembelajaran

Baca Juga

Strategi Cerdas Mengatur THR: Bagi untuk Zakat, Mudik, dan Kebutuhan Lebaran

Koperasi Unit Desa (KUD) pernah menjadi salah satu usaha ekonomi yang berkembang di banyak desa, namun banyak yang tidak berhasil mempertahankan eksistensinya dalam jangka panjang. Salah satu penyebab kegagalan tersebut, menurut Eliza Mardian, adalah upaya penyeragaman program di seluruh Indonesia tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi dan potensi lokal masing-masing desa. Hal ini membuat program-program koperasi tersebut tidak dapat mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah masing-masing.

“Setiap daerah memiliki potensi ekonomi yang berbeda. Program yang sama di seluruh Indonesia tidak memperhatikan perbedaan ini dan justru menghambat perkembangan koperasi yang sesuai dengan kondisi setempat,” kata Eliza. Kondisi serupa sering ditemukan pada KUD yang terlalu bergantung pada bantuan pemerintah, yang justru mengurangi independensi mereka. Tanpa adanya kemandirian, koperasi sulit berkembang menjadi lembaga ekonomi yang mandiri.

Pentingnya Fokus pada Pengembangan Produk Lokal

Salah satu faktor penting yang menyebabkan kegagalan koperasi di masa lalu adalah kurangnya strategi hilirisasi produk pertanian yang dikelola oleh koperasi. Banyak koperasi hanya fokus pada kegiatan ekonomi yang terbatas pada sektor hulu, seperti usaha tani. Namun, nilai tambah dari produk-produk ini seringkali kecil dan tidak optimal. Untuk mengatasi hal ini, Eliza menyarankan agar Kopdes Merah Putih mengembangkan produk berbasis potensi lokal yang lebih bernilai tambah.

"Sebagai contoh, banyak desa yang memiliki hasil pertanian, kerajinan, atau produk lokal lainnya yang bisa diolah lebih lanjut. Jika koperasi bisa membantu proses hilirisasi produk tersebut, maka nilai tambahnya akan jauh lebih tinggi," tambah Eliza. Produk-produk lokal yang sudah diolah dengan baik berpotensi membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan perekonomian desa.

Kaderisasi dan Manajemen yang Berkompeten untuk Keberlanjutan Kopdes Merah Putih

Selain fokus pada potensi ekonomi lokal, Eliza juga menyoroti pentingnya kaderisasi yang baik dalam pengelolaan koperasi. Banyak koperasi di masa lalu gagal karena pengurusnya tidak memiliki kompetensi yang memadai. Banyak koperasi yang terlalu bergantung pada figur-figur tertentu yang menjadi pengurus, sehingga apabila figur tersebut tidak lagi terlibat, koperasi bisa kehilangan arah dan tujuan.

“Pembentukan pengurus koperasi harus berbasis pada kebutuhan dan inisiatif masyarakat setempat. Jika koperasi dikelola oleh individu-individu yang memiliki komitmen dan kompetensi dalam pengelolaan bisnis, maka koperasi bisa bertahan dan berkembang lebih baik,” ujarnya. Dalam konteks Kopdes Merah Putih, pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan koperasi.

Kopdes Merah Putih Sebagai Proyek Strategis Nasional

Eliza juga menyarankan bahwa jika pengembangan Kopdes Merah Putih dapat berfokus pada pengembangan ekonomi lokal dan industri berbasis desa, maka koperasi ini bisa menjadi proyek strategis nasional yang penting. Sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (GDP), Kopdes Merah Putih berpotensi mendorong reindustrialisasi berbasis desa.

"Pengembangan koperasi ini jika dikelola dengan baik akan menciptakan multiplier effect yang luas, karena akan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan perekonomian lokal secara keseluruhan," ujar Eliza. Oleh karena itu, koperasi ini memiliki potensi untuk memberi dampak yang besar, tidak hanya bagi desa tetapi juga untuk perekonomian nasional.

Pentingnya Pemilihan SDM yang Tepat untuk Kopdes Merah Putih

Kunci kesuksesan dalam pengembangan Kopdes Merah Putih, menurut Eliza, terletak pada pemilihan SDM yang tepat. "Keberhasilan pengelolaan Kopdes Merah Putih sangat bergantung pada kompetensi pengurusnya. Bukan hanya karena jabatan kepala desa atau pengurus koperasi, tetapi lebih pada kemampuan mereka dalam merancang dan mengembangkan bisnis koperasi," jelasnya.

Eliza menekankan bahwa pengurus Kopdes Merah Putih harus dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam merancang rencana bisnis yang jelas dan aplikatif. Dengan adanya pengurus yang berkompeten, koperasi ini akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi lembaga ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.

Dengan langkah-langkah yang tepat dalam mengembangkan produk berbasis potensi lokal, pengelolaan yang berbasis pada kompetensi SDM, dan pemilihan strategi yang sesuai dengan kondisi desa, Kopdes Merah Putih dapat menjadi model baru koperasi yang tidak hanya memberikan manfaat untuk masyarakat desa tetapi juga untuk perekonomian nasional.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pendapatan Premi Allianz Life Meningkat 11 Persen pada 2025, Tembus Rp 18,3 Triliun

Pendapatan Premi Allianz Life Meningkat 11 Persen pada 2025, Tembus Rp 18,3 Triliun

Cara Bayar Indihome Lewat mBanking BCA Beserta Biaya Adminnya

Cara Bayar Indihome Lewat mBanking BCA Beserta Biaya Adminnya

BRI Siapkan Layanan Perbankan dan Digital untuk Transaksi Nasabah Saat Lebaran 2026

BRI Siapkan Layanan Perbankan dan Digital untuk Transaksi Nasabah Saat Lebaran 2026

Bank Mandiri Bagikan Ribuan Santunan Ramadan dan Buka Mudik Gratis 80 Kota

Bank Mandiri Bagikan Ribuan Santunan Ramadan dan Buka Mudik Gratis 80 Kota

Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% mencapai Rp8,9 Triliun, Seiring dengan Naiknya Transaksi Digital Masyarakat melalui Livin’ by Mandiri

Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% mencapai Rp8,9 Triliun, Seiring dengan Naiknya Transaksi Digital Masyarakat melalui Livin’ by Mandiri