Selasa, 17 Maret 2026

Kredit Konstruksi Melonjak Tajam, Program Pembangunan Pemerintah Jadi Pendorong Utama

Kredit Konstruksi Melonjak Tajam, Program Pembangunan Pemerintah Jadi Pendorong Utama
Kredit Konstruksi Melonjak Tajam, Program Pembangunan Pemerintah Jadi Pendorong Utama

JAKARTA - Penyaluran kredit pada sektor konstruksi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan sejak penghujung tahun lalu.

Kenaikan ini dinilai tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas pembangunan, baik yang dilakukan oleh pengembang swasta maupun berbagai proyek yang digerakkan pemerintah.

Data terbaru memperlihatkan bahwa sektor konstruksi kembali menjadi salah satu pendorong penting dalam dinamika pembiayaan perbankan. Sejumlah analis melihat bahwa akselerasi berbagai program pembangunan turut memperbesar kebutuhan pembiayaan di sektor tersebut.

Baca Juga

Pengembangan Kopdes Merah Putih: Fokus pada Potensi Lokal untuk Sukses

Kredit Konstruksi Tumbuh Signifikan

Berdasarkan data uang beredar dari Bank Indonesia (BI), hingga Januari 2026 kredit konstruksi untuk tujuan investasi tercatat tumbuh 38% secara tahunan (year on year/YoY). Di sisi lain, kredit konstruksi pada segmen kredit modal kerja (KMK) juga menunjukkan kenaikan sebesar 32,8% secara tahunan.

Lonjakan ini menandai perubahan tren dibandingkan periode sebelumnya. Dalam kurun Januari hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit konstruksi relatif terbatas. Bahkan pada segmen kredit modal kerja, penyaluran kredit sempat mengalami kontraksi.

Perubahan arah pertumbuhan mulai terlihat sejak November 2025. Pada periode tersebut, aktivitas konstruksi mulai meningkat sehingga mendorong kebutuhan pembiayaan dari sektor perbankan.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sektor konstruksi kembali bergerak lebih dinamis setelah sebelumnya sempat tertahan. Peningkatan kebutuhan pembiayaan menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas pembangunan di berbagai wilayah.

Program Pemerintah Jadi Pendorong

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai peningkatan kredit konstruksi tidak terlepas dari sejumlah program pembangunan yang digulirkan pemerintah.

Selain itu, aktivitas pengembang perumahan juga mulai meningkat sehingga turut menambah permintaan pembiayaan di sektor konstruksi.

“Memang untuk sektor konstruksi cukup menarik karena pertumbuhannya agresif sejak akhir tahun lalu,” ujar Myrdal.

Menurut Myrdal, terdapat beberapa program pemerintah yang berperan dalam mendorong peningkatan aktivitas konstruksi. Program-program tersebut antara lain Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pembangunan jaringan Koperasi Merah Putih.

Ketiga program tersebut dinilai memerlukan pembangunan infrastruktur fisik yang cukup besar, sehingga secara tidak langsung meningkatkan kebutuhan pembiayaan dari sektor perbankan.

Dampak Program Perumahan dan Infrastruktur

Program FLPP menjadi salah satu pendorong penting bagi aktivitas konstruksi. Program ini telah berjalan sejak 2024 dan mendorong pembangunan sekitar 200.000 unit rumah hingga akhir 2025.

Peningkatan pembangunan perumahan tersebut tentu membutuhkan dukungan pembiayaan yang tidak kecil. Hal ini kemudian berkontribusi terhadap meningkatnya kredit konstruksi pada segmen investasi.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis juga turut memberikan dampak terhadap aktivitas konstruksi. Program ini mengalami percepatan pada paruh kedua tahun lalu.

Percepatan tersebut mendorong pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Proyek pembangunan fasilitas tersebut dilakukan secara intensif menjelang akhir 2025 sehingga ikut meningkatkan kebutuhan pembiayaan konstruksi.

Dengan bertambahnya proyek pembangunan fasilitas publik, sektor konstruksi memperoleh tambahan aktivitas yang cukup signifikan.

Proyek Koperasi Berpotensi Besar

Di antara sejumlah program pemerintah yang ada, Myrdal menilai pembangunan jaringan Koperasi Merah Putih memiliki potensi paling besar dalam mendorong permintaan konstruksi.

Hal ini berkaitan dengan skala pembangunan yang cukup luas. Pemerintah diketahui berencana membangun sekitar 50.000 cabang koperasi di berbagai daerah.

Setiap cabang koperasi tersebut membutuhkan lahan yang cukup besar, yaitu sekitar 1.000 meter persegi. Dengan jumlah cabang yang mencapai puluhan ribu, kebutuhan pembangunan fisik tentu menjadi sangat besar.

Proyek dengan skala seperti ini dinilai dapat menciptakan permintaan konstruksi yang signifikan. Dampaknya juga berpotensi meluas ke berbagai sektor pendukung lainnya yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur.

Namun demikian, Myrdal menilai bahwa proyek pemerintah bukan satu-satunya faktor yang menentukan peningkatan kredit konstruksi.

Pengaruh Terhadap Suku Bunga Perbankan

Menurut Myrdal, jika proyek pemerintah dikonversikan ke dalam bisnis perbankan komersial, perhitungannya tidak selalu sama. Oleh karena itu, dampak langsung terhadap penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan masih perlu dicermati lebih lanjut.

“Proyek pemerintah ini kalau dikonversikan ke bisnis perbankan komersial perhitungannya agak berbeda. Jadi kita masih akan melihat dampak langsungnya terhadap penyaluran kredit perbankan secara keseluruhan,” jelasnya.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit konstruksi yang cukup agresif juga memiliki implikasi terhadap kondisi perbankan secara umum.

Menurut Myrdal, ekspansi kredit yang tinggi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat penurunan suku bunga perbankan berlangsung lebih lambat.

Hal ini terjadi karena pertumbuhan kredit yang kuat cenderung menjaga permintaan pembiayaan tetap tinggi. Kondisi tersebut terjadi bahkan ketika likuiditas perbankan sedang mengalami penyesuaian.

Dengan kata lain, meningkatnya aktivitas konstruksi bukan hanya berdampak pada sektor pembangunan, tetapi juga turut memengaruhi dinamika pembiayaan di sektor perbankan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pendapatan Premi Allianz Life Meningkat 11 Persen pada 2025, Tembus Rp 18,3 Triliun

Pendapatan Premi Allianz Life Meningkat 11 Persen pada 2025, Tembus Rp 18,3 Triliun

Cara Bayar Indihome Lewat mBanking BCA Beserta Biaya Adminnya

Cara Bayar Indihome Lewat mBanking BCA Beserta Biaya Adminnya

BRI Siapkan Layanan Perbankan dan Digital untuk Transaksi Nasabah Saat Lebaran 2026

BRI Siapkan Layanan Perbankan dan Digital untuk Transaksi Nasabah Saat Lebaran 2026

Bank Mandiri Bagikan Ribuan Santunan Ramadan dan Buka Mudik Gratis 80 Kota

Bank Mandiri Bagikan Ribuan Santunan Ramadan dan Buka Mudik Gratis 80 Kota

Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% mencapai Rp8,9 Triliun, Seiring dengan Naiknya Transaksi Digital Masyarakat melalui Livin’ by Mandiri

Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% mencapai Rp8,9 Triliun, Seiring dengan Naiknya Transaksi Digital Masyarakat melalui Livin’ by Mandiri