Kamis, 07 Mei 2026

Kemenag Distribusikan Kitab Suci Lintas Agama bagi Penyintas Bencana Sumatera

Kemenag Distribusikan Kitab Suci Lintas Agama bagi Penyintas Bencana Sumatera
Kemenag Distribusikan Kitab Suci Lintas Agama bagi Penyintas Bencana Sumatera

JAKARTA - Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera meninggalkan dampak luas, bukan hanya pada infrastruktur dan tempat tinggal warga, tetapi juga pada aspek spiritual masyarakat terdampak. Di tengah upaya pemulihan pascabencana, Kementerian Agama (Kemenag) mengambil langkah khusus dengan menyalurkan kitab suci lintas agama untuk para korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Langkah ini dilakukan setelah Kemenag menerima laporan langsung dari daerah bahwa banyak kitab suci milik warga rusak dan hilang akibat terjangan bencana. Permintaan tersebut bahkan datang langsung dari masyarakat terdampak, yang menilai kebutuhan rohani sama pentingnya dengan bantuan logistik dan pembangunan fisik.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut, permintaan kitab suci ini sempat berada di luar perkiraan awal pemerintah. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kehilangan kitab suci menjadi salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat.

Baca Juga

Pertamina Sesuaikan Harga BBM Non Subsidi Mengikuti Pasar Global

Kitab Suci Warga Rusak Tersapu Banjir dan Longsor

Dalam rapat satuan tugas (satgas) di kantor Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan latar belakang penyaluran kitab suci tersebut. Ia menyampaikan bahwa AlQur’an dan kitab suci agama lain milik warga banyak yang hancur akibat bencana alam.

“Di luar dugaan kami, ternyata permintaan mereka ke Kementerian Agama itu Qur'an karena Qur'an mereka hancur,” kata Nasaruddin dalam rapat tersebut.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat terdampak, kitab suci bukan sekadar buku, melainkan bagian penting dari kehidupan seharihari. Kehilangan kitab suci dianggap sebagai kehilangan pegangan spiritual yang selama ini menjadi sumber kekuatan, terutama dalam menghadapi masa sulit pascabencana.

 Puluhan Ribu AlQur’an Dicetak Ulang untuk Daerah Terdampak

Menindaklanjuti kebutuhan tersebut, Kementerian Agama bergerak cepat dengan menyiapkan pencetakan ulang kitab suci, khususnya AlQur’an. Nasaruddin menyebut jumlah yang dicetak mencapai puluhan ribu eksemplar dan akan segera didistribusikan ke wilayah terdampak bencana.

“Terpaksa kami cetak ulang Qur'an itu puluhan ribu ya, itu kita bagikan ke daerah terdampak,” ujarnya.

Tidak hanya AlQur’an, Kemenag juga memastikan ketersediaan kitab suci bagi pemeluk agama lain. Dalam proses ini, Kemenag bekerja sama dengan jajaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) dari berbagai agama, termasuk Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.

“Kemudian bukubuku agama, termasuk nonmuslim, kita juga kerja sama dengan Dirjen Bimas Kristen, apa, Katolik, dan Hindu, Buddha untuk menyiapkan kitabkitab suci mereka,” lanjut Nasaruddin.

Langkah ini menegaskan komitmen Kemenag dalam memberikan pelayanan yang inklusif dan merata bagi seluruh umat beragama, terutama dalam situasi darurat seperti bencana alam.

 Pemulihan Pascabencana Tak Hanya Soal Infrastruktur

Nasaruddin menekankan bahwa kebutuhan masyarakat pascabencana tidak bisa dilihat sematamata dari sisi fisik. Menurutnya, membangun kembali rumah, jembatan, dan fasilitas umum memang penting, tetapi pemulihan mental dan spiritual juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Bahwa ternyata masyarakat terdampak itu tidak hanya membutuhkan bangunan fisik,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan Kemenag yang memandang pemulihan bencana secara holistik. Trauma, kesedihan, dan kehilangan yang dialami warga membutuhkan penguatan mental dan rohani agar mereka mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan.

Oleh karena itu, kehadiran kitab suci di tengah masyarakat terdampak diharapkan dapat menjadi sumber penghiburan, ketenangan batin, serta penguat iman dalam menghadapi situasi sulit.

Ustaz dan Tokoh Agama Turun Langsung ke Lapangan

Selain menyalurkan kitab suci, Kementerian Agama juga mengerahkan sumber daya manusia untuk mendampingi para korban. Kemenag menurunkan jajarannya dan berkolaborasi dengan pemuka agama serta penyuluh keagamaan untuk memberikan layanan rohani secara langsung di lokasi bencana.

“Nah, kita kirim ustazustaz lokal yang apa, yang ada di tempat itu dan ditambah juga mereka minta ustazustaz dan penceramah kondang di situ,” kata Nasaruddin.

Menurutnya, permintaan ini datang langsung dari masyarakat yang ingin mendapatkan pendampingan spiritual secara intensif. Untuk memenuhi hal tersebut, Kemenag bahkan mengatur giliran bagi para penceramah terkenal agar bisa hadir langsung di daerah terdampak.

“Jadi kami gilir penceramah kondang ke lapangan itu karena mereka itu juga bagian dari permintaannya,” jelasnya.

Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat memulihkan semangat, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan optimisme di tengah proses pemulihan pascabencana yang masih panjang.

Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah

Ekhwanessa Bagus Aldhiansyah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Daftar Keterampilan Kerja Paling Dicari 2030 yang Wajib Dikuasai

Daftar Keterampilan Kerja Paling Dicari 2030 yang Wajib Dikuasai

Kupas Tuntas Aturan Baru Visa Digital Nomad untuk Pekerja Asing

Kupas Tuntas Aturan Baru Visa Digital Nomad untuk Pekerja Asing

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

ADHI Q1 2026: Kontrak Baru Tumbuh 131%, Laba Capai Rp154 Miliar

ADHI Q1 2026: Kontrak Baru Tumbuh 131%, Laba Capai Rp154 Miliar

Georgia Menjadi Kunci Strategis Amankan Energi Global

Georgia Menjadi Kunci Strategis Amankan Energi Global