Kemendagri Minta Pemda Waspadai Lonjakan Harga Bahan Pokok Jelang Ramadhan
- Selasa, 20 Januari 2026
JAKARTA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, potensi kenaikan harga bahan pokok kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menilai langkah antisipasi harus dilakukan lebih awal agar lonjakan harga tidak memberatkan masyarakat.
Pemerintah daerah (Pemda) pun diminta tidak bersikap pasif, melainkan aktif memantau dan mengendalikan pergerakan harga di wilayah masing-masing.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Tomsi Tohir menegaskan bahwa pemantauan harga bahan pokok tidak cukup hanya dilakukan melalui laporan administratif. Menurutnya, kepala daerah dan jajaran terkait harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi riil di pasar.
Baca JugaPemerintah Alokasikan Rp667 Miliar Pulihkan Jalan Malalak Pasca Bencana Sumbar
“Tolong turun, kumpulkan teman-teman pedagang itu, komunikasikan dengan daerah penghasilnya Pak. Supaya nanti pada saat Ramadhan dan Lebaran kenaikan itu tidak terlalu tinggi,” ujar Tomsi di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin.
Rapat Koordinasi Inflasi Daerah Jadi Langkah Antisipasi
Arahan tersebut disampaikan Tomsi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Pembahasan Antisipasi Kenaikan Harga Tiket Pesawat Menjelang Ramadhan dan Idulfitri. Kegiatan ini digelar di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri, Jakarta, Senin.
Melalui forum tersebut, Kemendagri berupaya memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengendalikan inflasi, khususnya pada momentum meningkatnya konsumsi masyarakat seperti Ramadhan dan Idulfitri. Tomsi menilai sinergi lintas daerah sangat penting, terutama dalam menjaga kelancaran distribusi bahan pokok dari daerah penghasil ke daerah konsumen.
Ia menekankan bahwa komunikasi antardaerah harus berjalan secara intensif agar potensi hambatan distribusi bisa segera diatasi. Dengan demikian, kenaikan harga yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan dapat ditekan.
Harga Sejumlah Komoditas Turun, Kewaspadaan Tetap Diperlukan
Dalam kesempatan tersebut, Tomsi mengapresiasi kinerja pemerintah daerah yang berhasil menurunkan harga sejumlah komoditas pangan strategis. Beberapa di antaranya adalah telur, daging ayam ras, bawang merah, serta cabai rawit yang saat ini tercatat mengalami penurunan harga.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tren penurunan harga tersebut tidak boleh membuat daerah lengah. Pasalnya, masih terdapat komoditas lain yang justru menunjukkan tren kenaikan di tengah penurunan harga pangan lainnya.
Tomsi secara khusus menyoroti harga bawang putih dan minyak goreng yang mengalami kenaikan. Kondisi ini dinilai perlu mendapatkan perhatian serius karena kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.
Dorong Intervensi Stok Minyak Goreng dan Beras
Untuk mengatasi potensi kenaikan harga minyak goreng, Tomsi berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan intervensi melalui penambahan stok Minyakita. Langkah ini dinilai efektif untuk menstabilkan harga di pasar sekaligus memastikan ketersediaan minyak goreng bagi masyarakat.
Di sisi lain, Tomsi juga mendorong Perum Bulog agar aktif melakukan intervensi apabila terdapat indikasi kenaikan harga beras di sejumlah daerah. Ia menekankan pentingnya memastikan kecukupan kuota dan stok beras di wilayah-wilayah yang rawan mengalami lonjakan harga.
"Cek ada apa Bulog di sana. Kalau memang betul, kuotanya kurang atau stoknya kurang, tolong dorong," ujarnya.
Menurut Tomsi, kecepatan respons menjadi kunci dalam pengendalian harga. Ketika indikasi kenaikan mulai terdeteksi, langkah intervensi harus segera dilakukan agar tidak berkembang menjadi lonjakan harga yang lebih besar.
Daerah Diminta Konsisten Kendalikan Inflasi
Lebih lanjut, Tomsi berharap seluruh daerah dapat terus belajar dari pengalaman pengendalian inflasi yang telah dilakukan selama ini. Berbagai forum koordinasi yang digelar pemerintah pusat diharapkan dapat menjadi sarana berbagi praktik terbaik dalam menjaga stabilitas harga di daerah.
Ia mengingatkan bahwa kondisi inflasi bersifat dinamis. Daerah yang saat ini mencatat inflasi rendah tetap berpotensi mengalami lonjakan apabila pengawasan melemah. Oleh karena itu, konsistensi dalam pengendalian harga menjadi hal yang sangat penting.
"Untuk teman-teman daerah, kami minta yang tinggi-tinggi ataupun yang rendah bisa saja menjadi tinggi kalau lengah. Itu kembali lagi, cek lagi, komunikasikan lagi, kontrol lagi ke pasar. Jangan kontrolnya mungkin seminggu sekali, dua minggu sekali, enggak bisa," tutur Tomsi.
Tomsi menegaskan bahwa pengendalian inflasi membutuhkan kerja berkelanjutan dan kedisiplinan dari seluruh pemangku kepentingan di daerah. Dengan pemantauan rutin, komunikasi yang intensif, serta intervensi yang tepat sasaran, pemerintah berharap stabilitas harga bahan pokok dapat terjaga selama Ramadhan hingga Idulfitri.
Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta menciptakan suasana Ramadhan yang lebih tenang tanpa tekanan lonjakan harga bahan pokok.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
KEEN Raih Kontrak PLTS Tobelo Rp423 Miliar, Perkuat Energi Terbarukan
- Selasa, 20 Januari 2026
Darma Henwa Perkuat Bisnis Tambang lewat Perpanjangan Kontrak Arutmin
- Selasa, 20 Januari 2026
Ciputra Life Optimistis Asuransi Kesehatan Tumbuh Kuat Sepanjang 2026
- Selasa, 20 Januari 2026
Pemerintah Alokasikan Rp667 Miliar Pulihkan Jalan Malalak Pasca Bencana Sumbar
- Selasa, 20 Januari 2026
Berita Lainnya
Update Pergerakan Harga Sembako Jawa Timur Hari Ini: Bawang Cabai Naik, Daging Turun
- Selasa, 20 Januari 2026
BKKBN Perketat Pengawasan Distribusi MBG bagi Ibu Hamil dan Balita untuk Cegah KLB
- Selasa, 20 Januari 2026
Indonesia dan Inggris Resmi Luncurkan Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi Bersama
- Selasa, 20 Januari 2026













_(2).jpg)