Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak 3 Persen
NEW YORK - Harga minyak dunia melonjak sekitar 3 persen pada akhir perdagangan Selasa (7/7/2026) waktu setempat atau Rabu (8/7/2026) pagi WIB, sesudah perselisihan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Kenaikan harga dipicu serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz, yang dibalas AS dengan mencabut izin umum (general license) perdagangan minyak mentah Iran serta melancarkan aksi militer baru ke wilayah Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 2,17 dollar AS atau 3,01 persen menjadi 74,16 dollar AS per barrel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,89 dollar AS atau 2,76 persen menjadi 70,44 dollar AS per barrel.
Setelah transaksi resmi usai, reli harga minyak berlanjut.
Brent naik lagi menjadi 75,88 dollar AS per barrel, sedangkan WTI menguat ke 72,20 dollar AS per barrel.
Kedua kontrak tersebut tercatat melonjak melebihi 5 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Pemerintah AS membatalkan lisensi umum yang sebelumnya memperbolehkan perdagangan minyak Iran, sesudah Teheran menyerang tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan atas serangan tersebut, Komando Pusat Militer AS menyatakan sudah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.
Direktur perdagangan energi berjangka Mizuho, dari Sumbernya, menilai perkembangan teranyar memperlihatkan meningkatnya ketegangan dibanding kesepahaman yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
"Jelas hari ini merupakan babak baru yang menjauh dari nota kesepahaman," ujar dari Sumbernya.
Dari Sumbernya menyatakan, masih belum terang apakah tindakan Iran dimaksudkan untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz atau sekadar menunjukkan kekuatan di tengah masa berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Juni lalu, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menyudahi perang serta membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz.
Direktur energi dan pengilangan ICIS, dari Sumbernya, menilai situasi saat ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata antara kedua negara masih sangat rapuh.
"Ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada. Serangan lanjutan dapat kembali muncul sewaktu-waktu dalam beberapa bulan ke depan dan akan semakin meningkatkan volatilitas pasar," ujarnya.
Dari Sumbernya menambahkan, ancaman Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz saja sudah cukup memicu lonjakan harga minyak yang signifikan.
"Jika Iran kembali mengancam menutup Selat Hormuz, harga minyak akan melonjak tajam. Karena itu kami meyakini volatilitas pasar akan tetap berlangsung," kata dari Sumbernya.
Sementara itu, menurut Analis UBS Giovanni Staunovo, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu ekspor minyak dari kawasan tersebut.
"Ketegangan baru di Timur Tengah dan kekhawatiran atas serangan terhadap kapal dapat menekan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah," ujar dari Sumbernya.
Pelaku pasar terus memantau negosiasi antara AS dan Iran mengenai masa depan hubungan kedua negara serta dampaknya terhadap pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang sebelum pecahnya perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan perundingan menuju kesepakatan final tidak akan berlangsung apabila ancaman dari AS terus berlanjut.
Pernyataan itu disampaikan sesudah Presiden AS Donald Trump mengancam akan "menuntaskan persoalan" jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Selain ketegangan di Timur Tengah, pasar juga mencermati perkembangan perang Rusia-Ukraina.
Militer Ukraina mengeklaim drone mereka menyerang 8 kapal tanker yang tergabung dalam "shadow fleet" Rusia dan dipakai untuk mengirimkan bahan bakar ke Crimea guna menghindari sanksi Barat.
Sementara itu, data American Petroleum Institute (API) memperlihatkan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 399.000 barrel pada pekan lalu.
Pelaku pasar kini menunggu laporan resmi stok minyak dari Energy Information Administration (EIA) AS yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat.