Potensi Ekonomi Perdagangan Karbon Indonesia Capai Rp5 Triliun
JAKARTA - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa perdagangan karbon Indonesia mempunyai potensi menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp5 triliun jika dikelola secara tepat, transparan, dapat dipertanggungjawabkan, serta mengedepankan kepentingan rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat pemberian persetujuan Menteri Kehutanan atas proyek karbon sekaligus pembukaan Sentra Karbon Kehutanan Indonesia di Jakarta, Senin (6/7).
Sesuai pandangan dari Sumbernya, sistem niaga karbon merupakan langkah lanjutan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kemakmuran warga sebagai fokus utama pembangunan.
Pemerintah berpendapat bahwa pengembangan ekonomi karbon tidak sekadar berkontribusi pada peningkatan ekonomi, melainkan pula menyokong upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Empat Proyek Karbon Menjadi Tahap Permulaan.
Pada tahap permulaan, pemerintah menentukan empat proyek karbon.
Tiga proyek muncul dari Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), sementara satu proyek muncul dari sistem perhutanan sosial.
Dari Sumbernya menyebutkan keempat proyek tersebut memiliki potensi menyelamatkan sekitar 30 juta ton CO? ekuivalen.
Perkiraan nilai transaksi ekonominya mencapai sekitar Rp5 triliun.
"Pada tahap awal ini sudah terdapat empat proyek karbon, yang terdiri dari tiga proyek Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan satu proyek perhutanan sosial. Total potensi emisi gas rumah kaca yang bisa diselamatkan sekitar 30 juta ton CO? ekuivalen, dengan nilai transaksi ekonomi sekitar Rp5 triliun," ujar Raja Juli Antoni dilansir Antara, Senin (6/7).
Potensi PNBP Mencapai Rp500 Miliar.
Di luar nilai transaksi ekonomi, pemerintah pun memprediksi adanya potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar kurang lebih Rp500 miliar.
Potensi tersebut lahir dari tiga proyek karbon yang melingkupi area dengan luas sekitar 225 ribu hektare.
Menurut dari Sumbernya, angka itu masih berasal dari porsi kecil kawasan yang sudah dipersiapkan untuk niaga karbon.
"Itu baru dari empat kawasan. Kami memiliki potensi sekitar 12,7 juta hektare. Kalau itu dapat dimanfaatkan, maka Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan ekonomi karbon," katanya.
Pengelolaan Menjadi Kunci Keberhasilan.
Dari Sumbernya menekankan keberhasilan ekonomi karbon bersandar pada pengelolaan kehutanan yang optimal.
Ia menggarisbawahi pentingnya sistem yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan, bebas korupsi, serta bebas manipulasi.
Menurutnya, pengelolaan tersebut akan merawat fungsi hutan sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi baru.
"Dengan tata kelola tersebut, hutan Indonesia dapat menjadi lebih hijau sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru."
Ekonomi Ramah Lingkungan Dipacu Menjadi Mesin Peningkatan Baru.
Pemerintah menganggap ekonomi ramah lingkungan sanggup menjadi salah satu sumber peningkatan ekonomi nasional.
Dari Sumbernya menuturkan pengembangan niaga karbon pun memiliki tujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, memantapkan pasar karbon, serta memacu peningkatan ekonomi warga di tingkat lokal sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Dampak bagi Warga dan Peluang bagi Kalbar.
Pemerintah menempatkan warga sebagai penerima keuntungan utama dalam pengembangan niaga karbon.
Lewat sistem ini, area hutan diharapkan terus terpelihara, sementara kegiatan ekonomi warga sekitar hutan mendapatkan kesempatan untuk tumbuh secara berkesinambungan.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengukuhkan janji Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menyokong penguatan pengelolaan niaga karbon bidang kehutanan sebagai bagian dari langkah menghadapi perubahan iklim sekaligus memacu peningkatan ekonomi ramah lingkungan.
Janji tersebut diutarakan Ria Norsan setelah menghadiri penyerahan Persetujuan Menteri Kehutanan terkait Niaga Karbon dan peresmian Indonesia Forestry Carbon Hub di Auditorium Dr. Soedjarwo, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Senin (6/7).
"Kalimantan Barat memiliki potensi hutan yang sangat besar sehingga ini menjadi peluang untuk menghadirkan manfaat ekologis sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.