Manfaatkan Arus Lintas Indonesia, PLTAL Nusa Penida Siap Didirikan
DENPASAR - Energi arus laut merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang menjanjikan, karena bersifat terprediksi, terbarukan, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Laut Indonesia sangat unik karena menjadi satu-satunya wilayah di dunia yang dilintasi sirkulasi arus global yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (Arlindo).
Berbeda dengan laut-laut lain di dunia yang hanya dipengaruhi pasang surut, arus di Indonesia merupakan gabungan antara Arlindo dan arus pasang surut, yang besarnya dapat setara, sehingga ideal untuk pembangunan Pusat Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).
Namun, sampai saat ini belum ada satu pun sistem pemanfaatan energi laut yang terbangun, bahkan belum ada studi kelayakan yang memenuhi standar internasional untuk keperluan tersebut.
Hal itu terungkap dalam Kegiatan Sosialisasi Pre-Feasibility Study: Proyek Percontohan Energi Laut Terbarukan di Nusa Penida untuk Mendorong Percepatan Transisi dan Kedaulatan Energi Nasional yang dilaksanakan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan University of Maryland USA dan Unud, Selasa, 30 Juni 2026 di Four Star by Trans Hotel Denpasar Timur, Bali. Kegiatan ini dibuka Sekda Bali Dewa Indra mewakili Gubernur Bali Wayan Koster.
Prof. R. Dwi Susanto, Ph.D. dari University of Maryland, USA menyampaikan, studi USAID-SINAR dan EBTKE ESDM mengidentifikasi 32 selat di Indonesia berpotensi dikembangkan sebagai PLTAL. Dari 14 selat yang telah dihitung, potensi energinya mencapai 19 GW, jauh lebih besar dibandingkan target RUPTL 2025-2034 yang hanya 40 MW.
Karena itu Pre-FS di Nusa Penida diharapkan menjadi proyek percontohan yang membuktikan kelayakan komersil energi arus laut dan mendorong peningkatan pemanfaatannya di masa mendatang.
Proyek Pra-Studi Kelayakan di Nusa Penida menjadi langkah awal pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut yang memenuhi standar internasional.
Proyek ini akan menghasilkan data sesuai IEC TS 62800, mendukung target energi nasional, serta menjadi proyek percontohan untuk membuktikan kelayakan teknis dan ekonomi energi laut di Indonesia.
Dengan ketersediaan energi selama 24 jam sepanjang tahun, energi arus laut berpotensi mendukung transisi menuju energi bersih dan target Net Zero Emission (NZE) 2060 sesuai RUEN.
”Sudah saatnya kami mensyukuri nikmat Tuhan Yang Mahakuasa atas anugerah potensi arus laut dengan membangun PLTAL. Sebab, Selat terutama yang sempit sangat ideal untuk PLTAL. Teknologi turbin arus laut untuk Selat sempit ditambatkan di dasar laut, tak mengganggu estetika, maupun pelayaran dan aktivitas nelayan. Energi arus laut tersedia melimpah dan terbarukan, bisa menghasilkan listrik 24 jam/365 hari tanpa harus dengan baterai,” ujarnya.
Sekda Bali Dewa Indra menyampaikan penelitian potensi arus laut sebagai energi ramah lingkungan ini dirancang oleh Institut Teknologi Bandung, bekerjasama dengan Prof. R. Dwi Susanto, PhD. dari University of Maryland, Amerika Serikat.
Rancangan utamanya adalah memanfaatkan arus laut sebagai energi yang bisa menghasilkan listrik. Tentu saja penelitian ini sangat sejalan dengan kebijakan Gubernur Bali–kebijakan Pemprov Bali yang secara formal sudah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Bali tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, energi yang bersumber dari energi baru terbarukan, bukan lagi menggunakan fosil yang menghasilkan emisi.
“Ini tentu sangat sejalan dengan kebijakan itu. Oleh karena itu, kami bersama-sama hari ini kan baru mendengarkan penjelasan pra-studi kelayakan. Masih ada tahap lanjutannya. Hari ini kami baru mendengarkan seperti apa teknologinya. Kalau dari aspek kebijakan Pemprov Bali, ini tentu sangat sejalan, ” kata Sekda Dewa Indra.
Dikatakan, di Indonesia belum ada yang memanfaatkan arus laut sebagai sumber energi listrik. Di Eropa, seperti dijelaskan Prof. R. Dwi Susanto sudah banyak digunakan.
“Kalau di Indonesia bisa, kenapa tidak? Dan kalau Bali dipilih, kenapa tidak kami sambut dengan baik? Tentu saja aspek-aspek lain, aspek lingkungan, sosial, ekonomi dan aspek pariwisatanya harus kami beri masukan kepada tim agar indikator-indikator itu masuk ke dalam lingkup studi kelayakan dari tim ini. Karena sejalan, tentu penelitian ini kami dukung. Nanti seperti apa hasilnya, tentu akan kami bahas dalam forum yang lebih luas,” pungkasnya.
Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Dr.techn. Dudy D. Wijaya menyampaikan Prof. R. Dwi Susanto sudah tahun 1986 menggagas bagaimana energi arus laut yang potensinya besar di Indonesia, bisa dimanfaatkan ke depan. Untuk menggerakkan energi potensial itu menjadi energi kinetik, perlu sejumlah usaha.
“Mari kami berusaha bersama-sama, secara kolektif untuk menjadikan potensi energi arus laut sebagai energi listrik yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar Nusa Penida atau di manapun teknologi energi baru terbarukan (EBT) itu berada.
Nah terkait dengan transisi pemberdayaan masyarakatnya yang merupakan tujuan lain dari transisi energi, di sinilah kami akan mendiskusikan beberapa hal. Oleh karena itu, kami dari pihak universitas yang didukung oleh Pemprov Bali, mendiskusikan bagaimana baiknya mewujudkan potensi energi arus laut di Nusa Penida.
Masukan dari masyarakat, para pemimpin adat, para stakeholder di bidang pariwisata ataupun pelaku UMKM sangat diperlukan, ” ujarnya.