Berduka, Gajah Indro Sang Pengawal Konflik di Tesso Nilo Mati

Indro, gajah Sumatera mati di Taman Nasional Tesso Nilo. (Sumber Foto: news.detik.com)
Rabu, 01 Juli 2026 | 16:18:45 WIB

PELALAWAN - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi. Seekor gajah Sumatera yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Riau, dikabarkan telah mati.

Kematian gajah yang diberi nama Indro ini membuat kaget para pecinta satwa serta pegiat lingkungan. Terlebih lagi, kawasan TNTN belum lama ini baru saja kehilangan seekor gajah lainnya.

Gajah Indro dilaporkan mati pada hari Senin, 29 Juni 2026, berkisar pada pukul 03.45 WIB. Satwa berjenis kelamin jantan tersebut menghembuskan napas terakhirnya ketika menginjak usia 45 tahun.

Sepanjang masa hidupnya, gajah Indro mempunyai andil yang sangat besar dalam menyokong Tim Flying Squad TN Tesso Nilo guna memitigasi konflik antara satwa dan manusia di sekitar kawasan Tesso Nilo.

Kapolda Riau Ikut Berduka

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, juga turut menyampaikan rasa belasungkawa atas kematian gajah Indro yang akrab dikenal sebagai 'kapten' penjaga konflik manusia dan satwa di TNTN.

"Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai," kata Irjen Herry Heryawan melalui akun Instagramnya, dilihat detikcom, Selasa (30/6).

Berdasarkan penuturan Kapolda, kematian gajah Indro ini menjadi sebuah pengingat. Bahwasanya merawat kelestarian alam, termasuk satwa liar beserta ekosistem di dalamnya, ialah tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, Green Policing Polda Riau hadir guna memperkokoh kolaborasi dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, serta seluruh makhluk hidup yang mendiami bumi Lancang Kuning.

"Selamat jalan, Indro. Jejak pengabdianmu akan selalu menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan di alam memiliki arti dan harus kami jaga bersama," pungkas Irjen Herry.

Penyebab Kematian Indro

Pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo membeberkan bahwa penyebab kematian gajah Indro dikarenakan komplikasi penyakit. Indro diketahui meninggal dunia saat berada dalam fase musth.

"Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth," demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo, dikutip detikcom dari akun Instagramnya, Selasa (30/6).

Untuk informasi, fase musth merupakan siklus biologis yang wajar pada gajah jantan dewasa yang dicirikan dengan adanya lonjakan hormon testosteron (mencapai 10 kali lapat). 

Di fase tersebut, gajah biasanya memperlihatkan tabiat yang lebih agresif, air kencing menetes dari preputium (ujung alat kelamin), serta keluarnya cairan minyak dari kelenjar temporal yang posisinya berada di bawah kulit kedua sisi kepala, di antara mata dan lubang telinga.

Fase musth menandakan bahwasanya gajah telah siap untuk bereproduksi. Perihal ini mengartikan adanya asa baru bagi kebergantungan regenerasi gajah, yang tergolong sebagai satwa liar dilindungi.

Pihak Balai TN Tesso Nilo memaparkan bahwa fase musth gajah Indro mulai terdeteksi sejak 25 April 2026. Di fase ini, perilakunya berubah menjadi makin agresif terhitung semenjak 1 Mei 2026 yang dicirikan dengan keluarnya cairan pada alat kelamin.

"Tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah," imbuhnya.

Gajah Indro Lebih Agresif

Saat memasuki permulaan Juni, pada tempat ikatan pengamanan, gajah Indro sudah sama sekali tidak bisa didekati, tidak memberikan respons atas perintah dari mahout (pawang), serta mulai memperlihatkan gelagat yang dapat mengancam keselamatan petugas.

Guna memelihara kondisi fisiknya, tim flying squad memberikan suplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, serta rumput gajahan, sekaligus memastikan ketersediaan air minum secara rutin dari jarak yang aman.

Setelah itu, pada tanggal 5 Juni 2026, tim juga mulai memandikan Indro dengan memakai mesin pompa air demi memelihara kebersihan serta stabilitas suhu tubuhnya.

Gajah Indro Dinyatakan Mati

Mempertimbangkan fase musth yang terjadi secara berlarut-larut, tim medis BTNTN melakukan koordinasi dengan BBKSDA Riau untuk mengambil langkah pembiusan (sedasi) guna memasangkan rantai tambahan sebagai langkah pengamanan.

Setelah prosedur selesai dilakukan, tim medis menyuntikkan obat penawar bius (anti-dot) sampai gajah Indro kembali sadar seutuhnya dalam posisi berdiri tegak secara stabil.

Pada tanggal 25-26 Juni mulai siang hari setelah pembiusan, gajah Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan serta minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN segera melakukan pengawasan intensif selama 24 jam penuh sekaligus berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli guna penanganan lebih lanjut.

Tim medis menyuntikkan suplemen energi, melakukan pengeluaran feses secara manual, mengecek suhu tubuh, serta memberikan infus suportif sebanyak 10 botol dalam sehari karena belum terlihat adanya perkembangan yang berarti.

Pada tanggal 28 Juni, Indro sempat menunjukkan sinyal positif setelah mulai bersedia meminum air dan berupaya menyentuh makanan. 

Demi mempercepat pemulihan kondisi fisik akibat anjloknya nafsu makan, tim medis memberikan penginfusan sebanyak 60 botol. Pada sore harinya, Indro dimandikan, mau minum, dan suhu tubuhnya terpantau normal, bahkan mendekati waktu kematiannya ia masih bergerak aktif memperlihatkan ketertarikan pada pakannya.

Perubahan kondisi berlangsung secara tiba-tiba pada dini hari pukul 03.30 WIB, Senin (29/6). Gajah Indro ditemukan sudah dalam kondisi terbaring. 

Dokter hewan bersama tim mahout lekas melakukan pemeriksaan darurat pada fungsi pernapasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit. Kendati demikian, gajah Indro tidak memberikan respons apa pun dan secara resmi dinyatakan telah mati pada pukul 03.45 WIB.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo