Efisien untuk Base Load, Arkora Hydro Unggulkan Teknologi PLTA

PT Arkora Hydro menegaskan keunggulan PLTA sebagai sumber listrik base load yang efisien dan andal. (Sumber Foto: NET)
Senin, 29 Juni 2026 | 15:17:43 WIB

JAKARTA – PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) menilai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih memiliki daya saing ekonomi yang kuat dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dipadukan dengan baterai, terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik beban dasar (base load) dalam jangka panjang.

Head of Investor Relations Arkora Hydro, Nicko Yosafat, mengatakan bahwa secara global biaya pembangkitan listrik (levelized cost of electricity/LCOE) PLTA memang sedikit lebih tinggi dibandingkan PLTS. 

Namun, perbandingan tersebut belum memperhitungkan biaya penyimpanan energi yang dibutuhkan agar PLTS dapat memasok listrik secara andal di luar jam matahari bersinar.

Mengacu pada data International Energy Agency (IEA), LCOE rata-rata PLTA pada 2024 mencapai US$0,057 per kWh, sedangkan PLTS berada di level US$0,043 per kWh. Namun, Nicko menjelaskan sistem PLTS membutuhkan baterai untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik. 

Berdasarkan studi National Renewable Energy Laboratory (NREL), biaya tambahan (storage premium) untuk sistem PLTS yang dipadukan dengan baterai mencapai US$23–39 per MWh di atas LCOE PLTS tanpa penyimpanan.

"Begitu faktor penyimpanan energi diperhitungkan, keekonomian PLTS plus baterai bisa menjadi setara atau bahkan lebih mahal dibandingkan PLTA, terutama jika PLTA sudah melewati masa pengembalian investasi awal yang hanya sekitar 5–7 tahun tergantung dari size-nya," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini, dikutip Minggu (29/6/2026).

Menurut dia, perbedaan mendasar kedua teknologi tersebut terletak pada karakteristik pembangkitnya. PLTA mampu memasok listrik secara stabil selama 24 jam tanpa memerlukan investasi tambahan untuk penyimpanan energi, sedangkan PLTS membutuhkan investasi terpisah untuk pembangkit dan baterai.

"Yang membedakan PLTA secara fundamental adalah sifatnya sebagai pembangkit base load yang tidak memerlukan investasi tambahan untuk storage [penyimpanan], karena energi yang dihasilkan sudah stabil dan kontinu sepanjang hari. 

Sementara PLTS plus baterai pada dasarnya adalah dua investasi sekaligus, yakni pembangkitan dan penyimpanan, yang keduanya menambah beban investasi di awal proyek," katanya.

Karena itu, meskipun pembangunan PLTA membutuhkan investasi awal yang besar dan masa konstruksi lebih panjang, Nicko menilai biaya untuk menghasilkan listrik yang andal (true cost of reliability) tetap kompetitif dibandingkan teknologi lain.

"Dengan demikian, meskipun PLTA membutuhkan investasi awal yang besar dan masa konstruksi yang panjang, dari sisi true cost of reliability, PLTA berada pada posisi yang sangat kompetitif, khususnya untuk kebutuhan base load jangka panjang seperti yang dibutuhkan sistem kelistrikan Indonesia," ujarnya.

Arkora menilai kebutuhan pembangkit base load berbasis energi terbarukan akan makin penting seiring percepatan transisi energi nasional. Hingga kuartal I/2026, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 18,3%. 

Sementara itu, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 52,9 gigawatt (GW) hingga 2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Nicko mengatakan karakteristik PLTA yang tidak bergantung pada intensitas matahari maupun kecepatan angin menjadikannya salah satu teknologi yang dapat menopang keandalan sistem kelistrikan nasional. 

Selain itu, menurutnya, keterbatasan pasokan batu bara yang sempat terjadi serta tingginya biaya impor energi akibat fluktuasi nilai tukar memperkuat posisi PLTA sebagai sumber energi domestik yang dapat mendukung ketahanan energi.

"PLTA bersifat terbarukan dan tidak bergantung pada impor. Karena itu, PLTA masih menjadi sumber listrik yang andal untuk menopang transisi energi nasional dan menciptakan ketahanan energi yang sesungguhnya," kata Nicko.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo