PTBA Minimalkan Emisi Karbon Lewat Uji Coba Co-firing Tahap II

Pada uji coba tahap kedua ini, PTBA memanfaatkan biomassa berupa wood pellet Kaliandra Merah sebesar 2% dan biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3%. (Sumber Foto: dunia-energi.com)
Kamis, 18 Juni 2026 | 10:03:36 WIB

JAKARTA - PT Bukit Asam (Persero) Tbk telah menjalankan uji coba co-firing Tahap II di PLTU Mulut Tambang Banko Barat berkapasitas 3x10 Megawatt (MW) sebagai wujud inisiatif dekarbonisasi serta langkah mewujudkan operasional pembangkit listrik yang ramah lingkungan.

Mine Development Department Head PTBA Ferry Fadri Al Ilham menuturkan bahwa uji coba tersebut menggunakan parameter yang sama dengan tahap terdahulu, namun dengan peningkatan variasi serta volume biomassa.

"Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi co-firing ke depan," ujar Ferry lewat siaran pers, dikutip Rabu (17/6/2026).

Pada uji coba kedua ini, emiten pertambangan batu bara pelat merah berkode saham PTBA tersebut memanfaatkan biomassa wood pellet Kaliandra Merah sebesar 2% dan campuran biomassa dari tanaman pulai, akasia, serta puspa sebesar 3%.

Ferry menjelaskan bahwa persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan uji coba tahap I pada September 2025 lalu. Saat itu, anggota Holding BUMN Pertambangan PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) tersebut menggunakan biomassa hasil land clearing masing-masing sebesar 1%.

"Pelaksanaan uji coba berjalan lancar tanpa memerlukan perubahan pada konstruksi maupun sistem utama pembangkit yang telah ada," tambah dia.

Sementara itu, Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu Zulkurniadi menambahkan bahwa penerapan co-firing tidak akan mengubah sistem operasional PLTU yang sudah berjalan. 

Hal ini dikarenakan keandalan operasional tersebut ditunjang oleh penggunaan boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB) yang dimiliki PLTU Banko Barat.

"Jadi sekalipun biomassa memiliki nilai kalor yang lebih rendah dibandingkan batu bara, performa dan keandalan pembangkit akan terjaga dengan baik," kata Zulkurniadi.

Penyediaan biomassa Kaliandra Merah merupakan hasil kolaborasi PTBA dengan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta yang telah membangun Kebun Energi sejak Januari 2024, termasuk fasilitas pengolahan wood pellet.

Guru Besar Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, Mohammad Nurcholis, menjelaskan bahwa Kaliandra Merah memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida dan menghasilkan biomassa berkualitas tinggi dengan nilai kalor di atas 4.300 kcal per kilogram.

"Biomassa berkualitas tinggi itu dapat mendukung proses pembakaran tanpa menurunkan kualitas energi yang dihasilkan," bebernya.

Selain mendukung dekarbonisasi lewat implementasi co-firing, PTBA juga menyiapkan keberlanjutan pasokan biomassa melalui pengembangan Kebun Energi.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menegaskan bahwa pemilihan Kaliandra Merah didasari oleh status tanaman tersebut sebagai jenis yang cepat tumbuh (fast-growing), memiliki kandungan energi tinggi, serta mampu tumbuh kembali setelah dipanen tanpa perlu penanaman ulang.

Ia meyakini bahwa kolaborasi antara industri, akademisi, dan perusahaan menjadi elemen penting dalam memperkuat transformasi PTBA menuju perusahaan energi yang berkelanjutan.

"Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih," pungkas Eko Prayitno.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo