Maksimalkan Produksi Energi, PLTS Atap Efektif Saat Musim Kemarau

PLTS atap meningkatkan produksi listrik saat musim kemarau dengan intensitas sinar matahari tinggi. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 15:09:21 WIB

JAKARTA – Peningkatan penggunaan pendingin udara selama musim kemarau dianggap menjadi salah satu faktor utama melonjaknya tagihan listrik rumah tangga. Dalam situasi tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dinilai berpeluang menjadi solusi untuk menurunkan konsumsi listrik dari jaringan PLN.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi, Deon Arinaldo, mengungkapkan bahwa PLTS atap sebenarnya telah menjadi opsi bagi sebagian rumah tangga di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. 

Namun, pemanfaatannya belum optimal lantaran regulasi dan struktur tarif listrik dinilai belum cukup memberikan insentif untuk mendorong minat investasi masyarakat.

“PLTS atap sudah bisa jadi solusi dari kini bahkan sejak beberapa tahun lalu sempat jadi pilihan instalasi di rumah tangga. Hanya saja kondisi regulasi dan tarif listrik di Indonesia tidak terlalu mendukung untuk terus mendorong PLTS atap di rumah tangga,” kata Deon, Rabu (3/6/2026).

Deon menerangkan, motivasi utama masyarakat memasang PLTS atap adalah untuk mengurangi tagihan listrik bulanan. Namun, berbeda dengan banyak negara yang mengalami lonjakan harga, tarif listrik di Indonesia cenderung stabil, sehingga manfaat penghematan dari investasi PLTS atap tidak terasa begitu signifikan. 

Kondisi ini membuat daya tarik pemasangan panel surya rumah tangga di Indonesia tidak sekuat di negara dengan tarif listrik tinggi.

Kendati demikian, Deon menekankan bahwa musim kemarau justru menjadi momen paling produktif bagi PLTS. Intensitas sinar matahari yang tinggi serta durasi penyinaran yang panjang mampu meningkatkan produksi listrik meskipun suhu udara cenderung panas.

“Efisiensi memang turun, tetapi tidak signifikan. Yang jauh lebih menentukan adalah intensitas sinar matahari,” ujar Deon.

Sebagai ilustrasi, data produksi panel surya di wilayah Surabaya menunjukkan bahwa PLTS pada periode Mei hingga September dapat menghasilkan sekitar 4.000 hingga 5.000 watt-jam per kilowatt terpasang per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan musim hujan.

Deon menilai pengembangan PLTS atap selaras dengan target pemerintah dalam membangun 100 gigawatt energi surya ke depan. Pemanfaatan atap bangunan dianggap sebagai cara tercepat menambah kapasitas energi surya tanpa harus membuka lahan baru. 

Saat ini, Kementerian ESDM sedang mengkaji pembaruan regulasi PLTS atap agar lebih inklusif, termasuk bagi pelanggan rumah tangga, melalui skema ekspor listrik ke PLN atau insentif baterai.

Selain mendorong PLTS atap, Deon mengimbau efisiensi penggunaan listrik. Survei IESR dalam proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) menunjukkan bahwa konsumsi listrik rumah tangga didominasi oleh kulkas (33%), AC (26%), dan kipas angin (14%). 

Penggunaan AC menjadi pemicu utama kenaikan tagihan saat cuaca panas. Masyarakat disarankan mengatur suhu AC di kisaran 24–25 derajat Celsius agar konsumsi listrik tetap terjaga.

“Kalau suhu diatur pada tingkat nyaman, sebenarnya AC tidak perlu bekerja terlalu keras dan mengonsumsi listrik berlebihan,” kata Deon.

Lebih lanjut, Deon menegaskan bahwa peningkatan energi terbarukan sangat krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah risiko cuaca ekstrem.

“Transisi menuju energi terbarukan merupakan keharusan untuk menjaga ketahanan energi nasional dalam jangka panjang,” ujar Deon.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo