Pertamina Tingkatkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Hijau di Keliki

Pembangkit listrik tenaga surya di Desa Keliki mendukung pengelolaan sampah dan irigasi pertanian. (Sumber Foto: cnnindonesia.com)
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:29:50 WIB

JAKARTA - Program Desa Energi Berdikari Keliki di Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali, menggalakkan penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan energi bersih dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya untuk pengelolaan sampah serta pengairan pertanian.

Pemanfaatan energi terbarukan ini berkontribusi pada peningkatan produktivitas pertanian sekaligus menurunkan biaya operasional dan emisi gas rumah kaca. 

Inisiatif yang dijalankan oleh Pertamina ini memadukan pengelolaan sampah, pertanian organik, dan energi baru terbarukan dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat. Tenaga surya dimanfaatkan untuk mendukung operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu serta sistem irigasi sawah selama musim kemarau.

Ketua BUMDes Yowana Bakti Keliki sekaligus Local Hero Desa Energi Berdikari Keliki, I Wayan Sumada, menyatakan bahwa desa tersebut menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari sehingga keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu menjadi krusial dalam menunjang pengelolaan lingkungan serta ekonomi masyarakat.

“Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari, dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat untuk mengelola dan mengolah sampah,” ujarnya.

Demi mendukung kegiatan pengolahan sampah, Desa Energi Berdikari Keliki mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas terpasang 10,5 kWp yang memproduksi energi surya sebesar 14.256 kWh setiap tahun. 

Fasilitas ini menghemat biaya listrik sekitar Rp21 juta per tahun serta mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 13,7 ton CO2eq per tahun. Menurut Sumada, program ini memicu perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga. 

“Saat ini kesadaran untuk masyarakat memilih sampah itu sudah sangat tinggi berkat kerja sama kami dengan Pertamina, kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam hingga kemudian bisa semakin bermanfaat lagi untuk alam,” tambahnya.

Selain pengelolaan sampah, tenaga surya digunakan untuk menggerakkan sistem irigasi pada tujuh subak. Pembangkit berkapasitas 17,5 kWp ini menghasilkan energi sekitar 84.000 kWh per tahun, menekan emisi sebesar 23,1 ton CO2eq per tahun, dan menghemat biaya listrik hingga Rp35 juta per tahun. 

Dukungan ini meningkatkan produktivitas padi organik dari 5–5,5 ton per hektare menjadi 8,7 ton per hektare.

Jajaran Dewan Komisaris Pertamina meninjau langsung program ini pada Kamis (28/5/2026). Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, menilai program tersebut menunjukkan keterkaitan erat antara aspek lingkungan dan manfaat ekonomi. 

“Dari program DEB Keliki ini, menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan dukungan kepada masyarakat melalui program-program yang dimiliki. 

Melihat keberhasilan DEB Keliki, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang, semoga program TSJL Perusahaan bisa lebih memberikan dampak yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo