Pacu Energi Bersih, Sambas Berpotensi Hasilkan 466 MW Listrik

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya. (Sumber Foto: NET)
Selasa, 26 Mei 2026 | 12:08:20 WIB

PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tanjungpura Pontianak melakukan penelitian mengenai potensi pengembangan tiga jenis energi terbarukan di wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. 

“Kami sudah menemukan tiga jenis energi terbarukan unggulan Kabupaten Sambas yang dapat dikembangkan potensinya untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus menekan emisi karbon di Kalbar,” kata Ketua Tim Peneliti dari LPPM Untan, Dr. Erdi, di Pontianak, Kalbar, Senin.

Saat memaparkan progres penelitian bertajuk “Analisis potensi energi terbarukan sebagai alternatif pengurangan emisi karbon di Kalbar”, Erdi menyebutkan bahwa tiga sumber energi terbarukan yang potensial dikembangkan di Kabupaten Sambas adalah energi surya, air, dan biomassa. 

Ketiga sumber energi ini diprediksi mampu menghasilkan daya listrik sebesar 466 megawatt (MW) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di Kabupaten Sambas yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Penelitian hasil kolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Kalimantan Barat ini menemukan bahwa tenaga surya mendominasi potensi sebesar 45 persen, disusul biomassa 35 persen, dan tenaga air 20 persen. 

“Kami juga telah memetakan wilayah atau basis potensial tiga jenis energi terbarukan ini, seperti energi surya sangat potensial dikembangkan di Kecamatan Paloh, Tebas, Teluk Keramat, Sejangkung dan Sajingan Besar,” ujarnya.

Sementara itu, potensi tenaga air dapat dimanfaatkan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sambas, DAS Sebangkau, dan DAS Paloh. Adapun pengembangan biomassa dapat difokuskan pada 11 Perkebunan Kelapa Sawit (PKS) swasta skala besar di Kabupaten Sambas dengan potensi daya realistis mencapai 93,8 MW.

Erdi menjelaskan, pengembangan ketiga jenis energi terbarukan ini diperkirakan mampu mereduksi emisi gas rumah kaca di Kabupaten Sambas sebesar 32 ribu hingga 97 ribu ton $CO_2$ per tahun, dari baseline emisi 108 ribu hingga 162 ribu ton $CO_2$ per tahun.

Selain itu, langkah ini diharapkan mendukung target penurunan emisi Indonesia sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen dengan bantuan internasional pada 2030. “Pengembangan pembangkit energi terbarukan ini juga akan menambah bauran energi bersih, selain itu menambah kehandalan daya listrik karena sampai saat ini PLN masih mengimpor listrik dari Malaysia untuk menerangi Kalbar,” katanya.

Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Kalimantan Barat, Haryanto, menambahkan bahwa pengembangan biomassa dari limbah cair sawit sangat menjanjikan karena Kalbar memiliki lebih dari 100 perkebunan kelapa sawit skala besar. 

“Apalagi sudah ada program Palm Oil Mill Effluent atau POME atau limbah cair kelapa sawit yang mampu menghasilkan gas metan yang berguna untuk energi listrik alternatif dan sudah ada juga kolaborasi dengan PLN tinggal realisasinya saja,” ujarnya.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo