Harga Minyak Melonjak, Raksasa Migas Global Raup Keuntungan Besar

Ilustrasi Harga Minyak. (Sumber Foto:NET)
Selasa, 12 Mei 2026 | 13:08:11 WIB

JAKARTA - Perusahaan minyak dan gas (migas) di dunia meraup keuntungan besar sebagai dampak dari konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Hal ini terjadi karena ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global.

Mengutip laporan BBC, patokan minyak internasional Brent mengalami kenaikan sebesar 3,8 persen menjadi 105,20 dolar AS per barel pada Senin (11/5/2026). Sementara itu, minyak mentah yang diperdagangkan di AS juga meningkat 4 persen ke level 99,30 dolar AS per barel.

Ketidakpastian yang dipicu oleh peperangan di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz oleh pihak Iran telah mendorong kenaikan biaya hidup dan menambah beban anggaran bagi perusahaan, keluarga, hingga pemerintah. 

Di saat beberapa sektor usaha terdorong ke ambang kehancuran, perusahaan lain yang bisnis intinya lebih menguntungkan dalam situasi perang atau yang memetik manfaat dari fluktuasi harga energi justru mencatatkan rekor pendapatan.

Dampak ekonomi paling signifikan dari konflik tersebut sejauh ini adalah lonjakan harga energi. Diketahui sekitar seperlima minyak dan gas dunia diangkut melalui Selat Hormuz, namun pengiriman tersebut secara efektif terhenti sejak akhir Februari lalu. 

Kondisi ini memicu fluktuasi harga yang sangat besar di pasar energi, di mana sejumlah perusahaan migas terbesar dunia memperoleh keuntungan.

Raksasa migas Arab Saudi, Aramco, melaporkan kenaikan laba pada kuartal pertama 2026 sebesar 26 persen menjadi 33,6 miliar dolar AS, dibandingkan periode tahun sebelumnya yang sebesar 26,6 miliar dolar AS. 

Lonjakan ini didukung oleh jalur pipa utama yang memungkinkan mereka menghindari kemacetan di Selat Hormuz karena telah beroperasi dalam kapasitas penuh.

“Jalur Pipa Timur-Barat kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7 juta barel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” ungkap CEO Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, deretan raksasa migas asal Eropa juga membukukan kenaikan laba pada kuartal pertama tahun ini. Laba British Petroleum (BP) melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dolar AS untuk periode tiga bulan pertama tahun ini. 

Kemudian, Shell juga mencatatkan laba bersih kuartal I 2026 yang melesat menjadi 6,92 miliar dolar AS.

Raksasa internasional lainnya, TotalEnergies, mencatatkan pertumbuhan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2026. Peningkatan ini dipicu oleh tingginya volatilitas di pasar minyak dan energi.

Di sisi lain, pendapatan raksasa migas asal AS, ExxonMobil dan Chevron, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah. 

Meski demikian, para analis memprediksi laba kedua perusahaan tersebut akan tumbuh lebih lanjut seiring berjalannya tahun ini, mengingat harga minyak masih bertahan jauh lebih tinggi dibandingkan saat awal konflik pecah.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo