Selasa, 20 Januari 2026

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 19 Januari 2026

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 19 Januari 2026
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, 19 Januari 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali berada dalam sorotan pelaku pasar pada awal pekan ini.

Memasuki perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, rupiah diperkirakan belum sepenuhnya keluar dari tekanan, meskipun pergerakannya masih berpeluang fluktuatif. Sejumlah sentimen internal dan eksternal dinilai masih membayangi laju mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat melemah cukup signifikan. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati dalam merespons berbagai perkembangan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun global.

Baca Juga

Kompak Menguat, Harga Emas UBS, Galeri24, dan Antam Naik Selasa 20 Januari 2026

Rupiah Ditutup Melemah pada Perdagangan Senin

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin, 20 Januari 2026 ditutup melemah sebesar 0,40% atau turun 68 poin ke level Rp16.995 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun pada saat yang sama indeks dolar AS justru terpantau melemah.

Indeks dolar AS tercatat turun 0,19% menuju level 99,20. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar AS, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi risiko investor.

Pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS turut memicu kewaspadaan pasar, terutama mengingat pergerakan mata uang kerap mencerminkan kondisi fundamental ekonomi suatu negara.

Tekanan Internal Datang dari Kekhawatiran Fiskal

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dominan berasal dari faktor internal. Salah satu isu utama yang menjadi perhatian investor adalah kondisi fiskal Indonesia.

Menurut Ibrahim, kekhawatiran muncul setelah data menunjukkan bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%. Di sisi lain, penerimaan pajak dinilai belum menunjukkan penguatan yang cukup signifikan untuk menopang kondisi fiskal ke depan.

“Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim.

Kombinasi antara defisit anggaran yang melebar dan penerimaan negara yang belum optimal membuat pasar cenderung lebih berhati-hati, terutama dalam menempatkan dana pada aset berdenominasi rupiah.

Sentimen Global Ikut Membebani Pasar Emerging Markets

Dari sisi eksternal, meskipun indeks dolar AS tidak menguat, ketidakpastian global tetap menjadi faktor pembebanan bagi mata uang negara berkembang. Ibrahim menyoroti ancaman tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebesar 10% hingga 25% terhadap negara-negara Eropa sebagai salah satu sumber ketidakpastian di pasar keuangan global.

Isu tarif tersebut dinilai meningkatkan sentimen risk-off, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.

Kondisi ini diperparah oleh sentimen dari China. Data pertumbuhan ekonomi China yang berada di angka 5,0% memang sesuai dengan target pemerintah setempat, namun lemahnya konsumsi domestik masih menjadi kekhawatiran tersendiri.

Menurut Ibrahim, lemahnya konsumsi domestik China berpotensi menekan prospek ekspor negara-negara mitra dagang di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sentimen tersebut memberikan tekanan tambahan bagi mata uang regional.

Langkah Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) dinilai terus mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ibrahim menyebutkan bahwa BI aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF).

Selain itu, BI juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan moneter yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menahan laju pelemahan rupiah.

“Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah,” pungkas Ibrahim.

Kebijakan pengelolaan devisa hasil ekspor tersebut diharapkan mampu meningkatkan pasokan valas di dalam negeri, sehingga membantu menyeimbangkan permintaan dolar AS di pasar.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Hari Ini

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen yang ada, Ibrahim memproyeksikan bahwa pada perdagangan hari ini, Selasa, 20 Januari 2026, nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan masih kuatnya tekanan, meskipun terdapat upaya stabilisasi dari otoritas moneter.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan kebijakan Bank Indonesia, kondisi fiskal pemerintah, serta dinamika global yang dapat memengaruhi arus modal. Selama sentimen ketidakpastian masih mendominasi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap rentan terhadap volatilitas.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Update Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 20 Januari 2026 Rp 2,7 Juta per Gram

Update Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 20 Januari 2026 Rp 2,7 Juta per Gram

Harga Emas Perhiasan 20 Januari 2026 Naik Serentak, Ini Daftar Lengkapnya

Harga Emas Perhiasan 20 Januari 2026 Naik Serentak, Ini Daftar Lengkapnya

Konsisten Akselerasi Ekonomi Masyarakat Desa, Bank Mandiri Terima Piagam Penghargaan dari Menteri PDT

Konsisten Akselerasi Ekonomi Masyarakat Desa, Bank Mandiri Terima Piagam Penghargaan dari Menteri PDT

Panduan Lengkap Cara Meminjam Uang di Bank untuk Modal Usaha

Panduan Lengkap Cara Meminjam Uang di Bank untuk Modal Usaha

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya