Jejak Karbon Data Center Diramal Melampaui Estimasi Awal

Pusat data global diperkirakan memproduksi emisi karbon jauh di atas prediksi awal pada 2025. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 02 Juli 2026 | 10:25:12 WIB

JAKARTA  - Riset teranyar menunjukkan pusat data memiliki jejak karbon yang jauh lebih besar daripada dugaan awal. Hal tersebut terjadi akibat pesatnya pembangunan pusat data yang dipicu oleh tren kecerdasan buatan (AI). 

Pusat data merupakan kompleks bangunan luas yang sangat boros listrik, yang dipakai untuk menyimpan infrastruktur IT penting seperti komputer server. Fasilitas ini dibangun secara global karena aplikasi AI memerlukan daya komputasi yang kian raksasa. 

Mengutip dari berbagai sumber, Selasa (30/6/2026), fenomena inilah yang memicu peningkatan emisi gas rumah kaca. Studi dari Allianz Trade menaksir bahwa pusat data di seluruh dunia sudah memproduksi 286 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2025.

Menurut Allianz Trade, jumlah tersebut 57 persen lebih besar daripada prediksi Badan Energi Internasional (IEA). Laporan tersebut juga menyatakan bahwa saat ini teknologi AI telah menyerap sekitar 15 persen hingga 20 persen dari total konsumsi listrik di pusat data. 

Persentase ini diproyeksikan dapat meroket hingga 40 persen pada tahun 2030. "Pusat data kini bukan lagi sekadar faktor kecil, melainkan pendorong utama yang mengubah struktur kebutuhan listrik di banyak wilayah," ujar Patrick Hoffmann, ekonom iklim senior di Allianz.

Dokumen tersebut menjelaskan bahwa tanpa langkah konkret untuk membersihkan jaringan listrik dari karbon, emisi dari pusat data akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030. 

Kondisi ini dapat menyebabkan kerugian iklim tahunan sebesar 154 miliar dolar AS, melonjak tajam dari angka saat ini yang mencapai 68 miliar dolar AS. Khusus untuk kerugian iklim akibat penggunaan AI saja, nilainya diprediksi dapat menembus 50 miliar dolar AS pada tahun 2030.

Selain persoalan emisi, pusat data juga sangat membebani sumber daya alam. Laporan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2030, fasilitas ini dapat menyedot 1,3 triliun hingga 1,8 triliun liter air per tahun, sebuah jumlah yang sangat masif. Di samping itu, dengan kapasitas komputer yang setara, total emisi yang dihasilkan bisa berbeda sangat jauh, tergantung pada asal sumber listriknya. 

Sebagai contoh, di India emisi listriknya sangat tinggi, yakni mencapai 600 gram CO2 per kilowatt-jam (kWh). Sementara di Norwegia atau Swedia, emisinya kurang dari 30 gram CO2 per kWh, sebab pembangkit listrik di sana mayoritas sudah memanfaatkan energi bersih yang bebas karbon. 

Menurut Allianz Trade, hampir 70 persen emisi pusat data di seluruh dunia saat ini menumpuk di Amerika Serikat dan China, yang menjadi pemimpin teknologi AI global sekarang.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo