Kuliner Lunggi-Lunggi Sangihe Tetap Diminati, Warisan Rasa Terjaga

Rabu, 28 Januari 2026 | 18:10:18 WIB
Kuliner Lunggi-Lunggi Sangihe Tetap Diminati, Warisan Rasa Terjaga

JAKARTA - Di tengah gempuran makanan modern yang semakin beragam dan mudah dijumpai, masyarakat Kepulauan Sangihe masih setia menjaga satu warisan rasa yang telah hidup sejak lama: lunggi-lunggi. Kudapan tradisional berbahan dasar singkong dan kelapa ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang terus melekat dalam kehidupan warga. Menariknya, minat terhadap lunggi-lunggi tidak hanya datang dari kalangan orang tua, tetapi juga generasi muda yang tetap menjadikannya pilihan, terutama saat momen-momen tertentu.

Kuliner tradisional khas Sangihe ini hingga kini masih mudah ditemukan di pasar lokal. Selain itu, lunggi-lunggi juga sering hadir dalam berbagai kegiatan adat, perayaan keluarga, hingga acara kebudayaan daerah. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaannya tidak pernah benar-benar tergeser, melainkan tetap bertahan sebagai makanan tradisional yang punya nilai lebih dari sekadar rasa.

Lunggi-lunggi dikenal dengan cita rasa khas yang kuat dan proses pembuatan yang masih mempertahankan cara tradisional. Inilah yang membuatnya berbeda dari jajanan modern. Bukan hanya soal bahan yang sederhana, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Sangihe menjaga cara membuatnya agar tetap autentik. Dari generasi ke generasi, lunggi-lunggi terus diwariskan, bukan hanya sebagai resep, tetapi sebagai simbol kebersamaan, tradisi, dan pelestarian budaya daerah.

Lunggi-Lunggi Masih Jadi Favorit dalam Momen Adat dan Keluarga

Kuliner tradisional khas Sangihe, lunggi-lunggi, hingga kini masih diminati masyarakat Sangihe.

Makanan berbahan dasar singkong dan kelapa ini tetap menjadi pilihan warga, terutama pada kegiatan adat, perayaan keluarga, hingga acara kebudayaan daerah.

Dalam kehidupan masyarakat Sangihe, makanan tradisional sering kali memiliki peran penting, terutama pada momen-momen sakral dan perayaan tertentu. Lunggi-lunggi termasuk salah satu hidangan yang dianggap “wajib hadir” pada acara-acara yang berkaitan dengan tradisi. Kehadirannya bukan hanya untuk disantap, tetapi juga menjadi bagian dari simbol kebersamaan dalam keluarga dan komunitas.

Tak heran jika lunggi-lunggi masih bertahan dan tetap diminati. Makanan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari tradisi yang terus hidup. Ketika ada perayaan keluarga atau kegiatan kebudayaan, lunggi-lunggi kerap disajikan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang diwariskan leluhur.

Cita Rasa Khas dan Proses Tradisional Jadi Daya Tarik Utama

Lunggi-lunggi dikenal dengan cita rasa khas dan proses pembuatan yang masih mempertahankan cara tradisional.

Keunikan lunggi-lunggi terletak pada kesederhanaannya. Bahan dasar singkong dan kelapa, yang mudah didapatkan di wilayah kepulauan, diolah menjadi makanan dengan rasa khas yang familiar di lidah masyarakat setempat. Tekstur dan rasa yang dihasilkan memberi pengalaman tersendiri bagi siapa pun yang mencicipinya.

Tidak hanya itu, cara pembuatan yang masih tradisional juga menjadi daya tarik. Di saat banyak makanan masa kini diproduksi cepat dengan mesin, lunggi-lunggi justru mempertahankan proses yang lebih manual dan alami. Nilai tradisi inilah yang membuatnya terasa “lebih asli”, sekaligus menghadirkan nostalgia bagi warga Sangihe yang tumbuh bersama makanan ini.

Karena dibuat dengan cara tradisional, lunggi-lunggi juga memiliki kesan khas rumahan. Banyak orang percaya, rasa terbaik lunggi-lunggi justru lahir dari proses yang tidak instan. Itulah sebabnya, meski banyak jajanan baru bermunculan, makanan ini tetap punya penggemar setia.

Mudah Ditemukan di Pasar Lokal, Kerap Hadir di Momen Khusus

Selain mudah ditemukan di pasar lokal, makanan ini juga kerap disajikan pada momen tertentu sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sangihe.

Ketersediaan lunggi-lunggi di pasar lokal menjadi salah satu alasan mengapa makanan ini tetap bertahan. Masyarakat tidak kesulitan mencarinya, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun untuk persiapan acara tertentu. Keberadaannya di pasar juga menunjukkan bahwa permintaan terhadap lunggi-lunggi masih stabil.

Namun yang lebih penting, lunggi-lunggi tidak hanya hadir sebagai makanan jualan biasa. Ia punya posisi khusus dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam banyak kesempatan, lunggi-lunggi menjadi suguhan yang menggambarkan kedekatan dengan tradisi dan kebanggaan terhadap kuliner daerah.

Dengan demikian, lunggi-lunggi bukan sekadar “produk pasar”, tetapi bagian dari budaya. Makanan ini tetap punya tempat karena terus disertakan dalam ritual sosial, adat, dan perayaan.

Pelaku Usaha: Minat Tinggi dari Orang Tua hingga Anak Muda

Pelaku usaha kuliner lokal Embo Salbia Mokotika kepada RRI.co.id mengatakan minat masyarakat terhadap lunggi-lunggi masih cukup tinggi, baik dari kalangan orang tua maupun generasi muda.

Pernyataan Embo Salbia mempertegas bahwa lunggi-lunggi masih menjadi kuliner yang dicari masyarakat. Menariknya, peminatnya tidak hanya terbatas pada generasi lama. Anak muda pun masih memberi ruang bagi makanan tradisional ini untuk tetap hadir dalam keseharian maupun acara tertentu.

Rasa yang familiar menjadi salah satu faktor penting. Lunggi-lunggi memiliki karakter rasa yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Sangihe sejak dulu. Selain itu, nilai budaya yang melekat membuat makanan ini terasa lebih bermakna dibanding jajanan modern yang sifatnya lebih sementara.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih bisa bersaing, asalkan tetap dijaga kualitas rasa dan keasliannya. Lunggi-lunggi menjadi contoh bahwa makanan tradisional tidak selalu kalah pamor, bahkan justru memiliki kekuatan tersendiri karena identitas dan sejarah yang menyertainya.

Upaya Pelestarian Budaya, Harapan untuk Generasi Muda

Keberadaan kuliner tradisional ini juga dianggap sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya daerah.

Embo Salbia berharap, kuliner khas seperti lunggi-lunggi terus diperkenalkan kepada masyarakat lebih khusus generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan tetap menjadi identitas kuliner masyarakat kepulauan Sangihe.

Lunggi-lunggi bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol pelestarian budaya. Saat masyarakat masih memproduksi dan mengonsumsinya, itu berarti tradisi kuliner Sangihe masih hidup. Inilah yang membuat makanan ini punya nilai penting dalam menjaga warisan budaya daerah.

Harapan agar lunggi-lunggi terus dikenalkan kepada generasi muda menjadi poin yang sangat relevan. Jika anak muda tetap mengenal, menyukai, bahkan ikut memproduksi kuliner tradisional ini, maka lunggi-lunggi akan tetap bertahan menghadapi perubahan zaman.

Dengan begitu, lunggi-lunggi tidak hanya menjadi makanan tradisional yang “pernah ada”, melainkan tetap menjadi identitas kuliner masyarakat Kepulauan Sangihe yang terus dijaga dan dibanggakan.

Terkini